@phdthesis{digilib75551, month = {January}, title = {KEMATANGAN BERAGAMA MAHASANTRI PENGHAFAL AL-QUR?AN DI PONDOK PESANTREN ULUL ALBAB BALIREJO YOGYAKARTA}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 22105020047 Hijri Saidatun Nisalis Tanjung}, year = {2026}, note = {Roni Ismail, S.Th.I., M.S,I.}, keywords = {Kematangan, mahasantri, tahfiz, motivasi, pesantren}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75551/}, abstract = {Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tidak semua mahasantri penghafal Al-Qur?an otomatis memiliki tingkat kematangan beragama yang tinggi. Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta sebagai pesantren mahasiswa dengan program tahfizhul Qur?an menempatkan para mahasantri dalam dua ruang pembinaan sekaligus, yaitu lingkungan akademik kampus dan lingkungan spiritual pesantren. Kondisi ini menjadikan proses internalisasi nilai agama berjalan secara kompleks. Meskipun para mahasantri memiliki hafalan Al-Qur?an yang kuat, kenyataan menunjukkan bahwa capaian hafalan tidak selalu linear dengan kedalaman pemahaman, refleksi diri, dan kedewasaan spiritual. Penelitian ini dilakukan untuk memahami bagaimana bentuk kematangan beragama para mahasantri penghafal Al-Qur?an serta faktor-faktor yang memengaruhinya dengan menggunakan teori kematangan beragama Gordon W. Allport. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan psikologi agama. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan sepuluh mahasantri penghafal Al-Qur?an, serta dokumentasi selama proses penelitian di Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan sebagaimana. Pendekatan psikologi agama digunakan untuk menelusuri bagaimana pengalaman spiritual, dinamika internal, serta konteks lingkungan pesantren membentuk sikap, motivasi, nilai, dan perilaku keberagamaan para mahasantri. Triangulasi sumber digunakan untuk menjamin keabsahan data sehingga hasil penelitian dapat menggambarkan kondisi kematangan beragama secara objektif dan mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematangan beragama mahasantri penghafal Al-Qur?an berada pada tingkat yang beragam. Dari sepuluh informan, tujuh di antaranya menunjukkan ciri kematangan beragama sesuai teori Allport, seperti kemampuan refleksi diri, keterbukaan terhadap perbedaan, kerendahan hati intelektual, serta konsistensi moral dalam menjalankan ajaran agama. Sementara tiga informan lainnya masih berada pada tahap perkembangan religius yang lebih konvensional, ditandai dengan pemahaman keagamaan yang masih teknis dan belum sepenuhnya reflektif. Penelitian ini juga menemukan dua faktor utama yang memengaruhi kematangan beragama, yakni faktor internal (motivasi, pengalaman spiritual, kemampuan refleksi, dan disiplin diri) serta faktor eksternal (lingkungan pesantren, peran kyai, komunitas teman sebaya, dan dinamika kehidupan kampus). Penelitian ini menegaskan bahwa hafalan Al-Qur?an bukan satu-satunya indikator kematangan beragama, melainkan harus disertai penghayatan, pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur?an dalam kehidupan sehari-hari. Kata Kunci : Kematangan, mahasantri, tahfiz, motivasi, pesantren} }