@mastersthesis{digilib75564, month = {January}, title = {MEKANISME FANTASI IDEOLOGIS PANCASILA STUDI KRITIK IDEOLOGI SLAVOJ ZIZEK (1949 - )}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 23205012023 Resha Husain Luthfi}, year = {2026}, note = {Novian Widiadharma, S.Fil., M.Hum.}, keywords = {Pancasila, Ideologi, Fantasi Ideologis, Kritik Ideologi, Slavoj Zizek}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75564/}, abstract = {Penelitian ini menganalisis mekanisme fantasi ideologis Pancasila dengan menggunakan perspektif kritik ideologi Slavoj {\v Z}i{\v z}ek. Berangkat dari kuatnya legitimasi Ideologi Pancasila yang tercermin dalam berbagai survei nasional, penelitian ini menyoroti adanya jarak antara penerimaan normatif terhadap Pancasila dan realitas sosial yang masih ditandai oleh intoleransi, ketimpangan, serta pelemahan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. Dalam kerangka {\v Z}i{\v z}ek, ideologi dipahami bukan sekadar sebagai sistem gagasan normatif, melainkan sebagai struktur fantasi yang menata persepsi subjek terhadap realitas sosial sekaligus menutupi kontradiksi internal yang menyertainya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi dokumentasi. Data premier penelitian ini diambil dari UUD 1945 khususnya pembukaan alinea ke-4, dokumen dan teks resmi negara. Adapun data sekunder didapatkan dari karya ilmiah yang relevan, wacana publik, serta data survei terkait pengamalan nilai-nilai Pancasila. Metode pengolahan data dilakukan melalui pembacaan kritis terhadap teks dan praktik sosial yang relevan dengan ideologi Pancasila. Data dianalisis menggunakan interpretasi, deduksi dan induksi untuk menyingkap pola makna dan struktur argumen yang bekerja. Tahap akhir dilakukan melalui refleksi kritis guna merumuskan temuan analitis secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ideologi Pancasila bekerja melalui pembentukan fantasi kolektif dalam menstruktur cara subjek memahami realitas sosial. Fantasi ideologis terbentuk lewat pengulangan narasi resmi, simbol kebangsaan, dan bahasa normatif yang menempatkan Pancasila sebagai horizon ideal. Pengulangan itu menegaskan kekurangan struktural subjek. Kekurangan ini kemudian berusaha ditutupi oleh objet petit a, objek penyebab hasrat yang tak pernah tercapai. Kegagalan pemenuhan meninggalkan residu simbolik yang memanifestasikan diri sebagai kenikmatan berlebih (jouissance). Dengan mekanisme ini, Pancasila menstruktur realitas sosial agar tampak stabil dan wajar di tengah ketimpangan yang terus berulang. Selanjutnya, keberlangsungan ideologi Pancasila terjadi melalui proses objektivasi kepercayaan. Dalam proses ini, keyakinan tidak lagi bergantung pada refleksi subjek, tetapi ditempatkan pada simbol, institusi, atau prosedur formal yang diperlakukan sebagai penanda kebenaran. Peralihan tersebut mengurangi tuntutan bagi subjek untuk melakukan pembuktian reflektif. Selain itu simbol dan institusi yang diterima sebagai sesuatu yang wajar dan sah, juga ikut memperkuat dominasi dan pengaruh ideologi. Kemunculan retakan dari gejala (symptom) berupa konflik, radikalisme, dan kekerasan yang menandai adanya The Real yang berusaha hadir namun selalu gagal, sehingga menyebabkan ideologi dapat mengarahkan kegagalan ke arah luar dan mempertahankan pengaruhnya.} }