%0 Thesis %9 Masters %A Devi Kusumawati, NIM.: 23205032020 %B FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM %D 2026 %F digilib:75572 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %K Berikut teks yang sudah dihilangkan diakritiknya: Al-Ulama As-Su, Sayyid Qutb, Fi Zilal Al-Quran, Hermeneutika Gadamer %P 215 %T AL-ULAMA AS-SU PERSPEKTIF SAYYID QUTB DALAM TAFSIR FI ZILAL AL-QURAN %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75572/ %X Penelitian ini mengkaji konsep al-‘ulamā’ as-sū’ dalam perspektif Sayyid Qutb dalam tafsir Fī Ẓilāl al-Qur’ān. Fenomena penyimpangan otoritas agama oleh sebagian figur ulama merupakan persoalan serius dalam kehidupan sosial-keagamaan umat Islam. Ulama yang semestinya menjaga nilai-nilai agama, justru tidak jarang terjerumus dalam kepentingan duniawi, hawa nafsu bahkan kedudukan atau kekuasan. Dalam kerangka Qur’ani, kritik terhadap ulama yang menyimpang selalu berangkat dari standar normatif tentang ulama ideal, yakni mereka yang mengintegrasikan kedalaman ilmu dengan iman, khasyah kepada Allah, komitmen terhadap keadilan, serta konsistensi dalam mengamalkan wahyu. Penelitian ini bertujuan menganalisis penafsiran Sayyid Qutb terhadap ayat-ayat Al-Qur’an tentang al-‘ulamā’ as-sū’ dalam Tafsir Fī Ẓilāl al-Qur’ān melalui perspektif hermeneutika Hans-Georg Gadamer, sekaligus menilai relevansi kritik tersebut terhadap penyimpangan otoritas keagamaan dalam konteks sosial-keagamaan kontemporer. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis dengan kerangka historically effected consciousness, pra-understanding, fusion of horizons, dan anwendung. Menurut Al-Ghazali ulama ada dua macam, yaitu ulama akhirat dan ulama dunia, dimana ulama dunia ia sebut sebagai al-‘ulamā’ as-sū’, yaitu mereka yang menjadikan ilmu sebagai sarana menikmati kesenangan dunia serta meraih kedudukan dan kehormatan di hadapan para pemilik kekuasaan. Dalam kerangka ini, al-‘ulamā’ as-sū’ adalah sosok berilmu yang tidak disertai rasa takut dan ketakwaan kepada Allah, tidak mengamalkan ilmunya serta menyalahgunakannya demi kepentingan duniawi, bahkan menyesatkan umat. Sejalan dengan pandangan tersebut, Sayyid Qutb dalam Tafsir Fī Ẓilāl al-Qur’ān menampilkan al-‘ulamā’ as-sū’ sebagai figur yang memisahkan ilmu dari integritas moral, memanfaatkan agama untuk kepentingan duniawi dan kekuasaan, serta membenarkan penyimpangan melalui dalih dan legitimasi keagamaan, dll. Disamping itu, perlunya mengetahui ulama yang ideal Dalam perspektif hermeneutika Hans-Georg Gadamer, penelitian ini menunjukkan bahwa penafsiran Qutb terhadap ayat-ayat tentang al-‘ulamā’ as-sū’ dibentuk oleh kesadaran historis terutama pengalaman sosial-politik Mesir pada masa rezim Nasser, keterlibatannya dalam gerakan Ikhwān al-Muslimīn serta keterlibatan sebagian ulama dalam memberi legitimasi kekuasaan, yang turut membingkai cara Qutb membaca ayat-ayat kritik moral Al-Qur’an. pra-understanding Qutb tertumpu pada keyakinan bahwa Al-Qur’an merupakan manhaj kehidupan yang mengatur seluruh dimensi sosial dan moral, sehingga penyimpangan otoritas keagamaan dipahami sebagai sumber utama kerusakan masyarakat. Melalui proses fusion of horizons, Qutb memperluas kecaman kritik Al-Qur’an yang awalnya ditujukan kepada Ahl al-Kitāb menjadi kritik normatif universal terhadap siapa pun yang menyalahgunakan otoritas keagamaan. Akan tetapi, Peleburan horizon antara pesan normatif Al-Qur’an dan pengalaman historis Qutb menyingkap keterbatasan penafsir, khususnya kecenderungannya memusatkan kritik pada ulama dan mengabaikan peran masyarakat dalam menormalisasi otoritas keagamaan. Karena itu, konsep ulama ideal Qur’ani berfungsi sebagai tolok ukur normatif untuk membaca kritik tersebut secara proporsional sekaligus menegaskan tanggung jawab kolektif dalam menjaga standar moral keulamaan. Dalam kerangka anwendung, kritik tersebut diaktualkan Qutb sebagai sebuah peringatan terhadap ulama maupun lembaga agama yang bersekutu dengan kekuasaan dan modernitas. Adapun dalam kontek kontemporer, penafsiran Qutb memiliki relevansi untuk membaca berbagai gejala penyalahgunaan otoritas keagamaan. %Z Prof. Dr. Muhammad, M.Ag.