TY - THES N1 - Prof. Dr. H.Abdul Mustaqim, S. Ag., M. Ag. ID - digilib75574 UR - https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75574/ A1 - Ahmad Baehaki, NIM.: 23205032030 Y1 - 2026/01/22/ N2 - Mu?kam?mutasy?bih sejak lama menjadi salah satu tema penting dalam kajian ?ul?m al-Qur??n yang terus diperdebatkan. Perdebatan tersebut mencakup persoalan definisi, penentuan kategori ayat mu?kam dan mutasy?bih, serta sikap terhadap ayat-ayat mutasy?bih. Ketiadaan konsensus menyebabkan suatu ayat yang dipandang mu?kam oleh satu kelompok justru dianggap mutasy?bih oleh kelompok lain. Perbedaan ini tidak hanya melahirkan ragam mazhab teologi, tetapi dalam konteks tertentu juga berkontribusi pada munculnya ketegangan dan konflik di tengah umat. Meskipun kajian tentang mu?kam?mutasy?bih telah banyak dilakukan, penelitian yang secara sistematis menelusuri dimensi sosio-historis penafsiran masih relatif terbatas. Celah inilah yang hendak diisi oleh penelitian ini. Penelitian ini mengkaji penafsiran ayat-ayat terkait konsep mu?kam?mutasy?bih dalam tafsir al-Kasysy?f karya al-Zamakhsyar? sebagai representasi tafsir Mu?tazilah dan Maf?t?? al-Ghayb karya Fakhr al-D?n al-R?z? sebagai representasi tafsir Asy?ariyah, dengan menggunakan teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim sebagai kerangka analisis. Penelitian ini bersifat kualitatif berbasis studi pustaka, menggunakan metode deskriptif-analitis dan pendekatan interpretatif untuk menelusuri keterkaitan antara penafsiran dan latar belakang sosio-historis mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran al-Zamakhsyar? berpijak pada weltanschauung Mu?tazilah, sedangkan penafsiran al-R?z? berakar pada weltanschauung Asy?ariyah. Secara spesifik, temuan penelitian menunjukkan bahwa pandangan al-Zamakhsyar? tentang mu?kam?mutasy?bih merupakan fase pematangan pemikiran Mu?tazilah muta?akhkhir?n, khususnya Q??? ?Abd al-Jabb?r dan al-Jusysyam?, berbeda dengan Mu?tazilah awal yang masih memperlihatkan ragam pendekatan. Dalam kerangka ini pula, al-Zamakhsyar? cenderung membatasi diskursus mu?kam?mutasy?bih pada ayat-ayat teologis. Adapun al-R?z?, menempatkan isu mu?kam?mutasy?bih sebagai arena perdebatan antarmazhab dan mengkritik kecenderungan teologi?terutama Mu?tazilah?yang mereduksi diskursus tersebut ke dalam kepentingan ideologis. Karena itu, ia menawarkan pendekatan baru yang menurutnya lebih objektif dan sistematis sebagai jalan keluar dari kebuntuan konseptual. Dengan mensintesiskan pemikiran al-Juwayn? dan al-Ghaz?l?, al-R?z? merumuskan konsep mu?kam?mutasy?bih yang baru dalam tradisi Asy?ariyah, yang kemudian diikuti oleh kalangan Asy?ariyah pada periode-periode sesudahnya. Berbeda dengan al-Zamakhsyar? yang membatasi mu?kam?mutasy?bih pada aspek teologis, konsep mu?kam?mutasy?bih versi al-R?z? lebih akomodatif karena juga mencakup dimensi hukum fikih, tidak terbatas pada isu-isu teologis semata. Dalam perspektif sosiologi pengetahuan Karl Mannheim, penafsiran al-Zamakhsyar? dapat dipahami sebagai bersifat utopis, karena lahir dari posisi teologis yang relatif termarjinalkan dan membawa dorongan untuk menantang arus pemikiran yang dominan. Sebaliknya, penafsiran al-R?z? bersifat ideologis karena berkembang dalam konteks mazhab yang telah mapan dan berfungsi mempertahankan struktur pemikiran yang berlaku. Selain itu, temuan penting dari penelitian ini adalah tawaran sintesa kreatif dengan menggabungkan produktivitas rasional al-Zamakhsyar? dan sikap kehati-hatian epistemik al-R?z? dalam memahami ayat-ayat mutasy?bih. Pendekatan ini memungkinkan penafsiran mu?kam?mutasy?bih yang lebih terbuka dan proporsional, sehingga terhindar dari kekakuan penafsiran serta klaim kebenaran mutlak yang bersifat sepihak. PB - UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA KW - Muhkam KW - Mutasyabih KW - al-Zamakhsyari KW - al-Razi KW - Mutazilah KW - Asyariyah M1 - masters TI - MUHKAM DAN MUTASYABIH DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI MUTAZILAH DAN ASYARIYAH: STUDI ATAS TAFSIR AL-KASYSYAF DAN TAFSIR MAFATIH AL-GHAYB AV - restricted EP - 292 ER -