@mastersthesis{digilib75625, month = {January}, title = {PEMBACAAN ULANG QS AN-NISA? 34 TENTANG KEPEMIMPINAN LAKI-LAKI DAN RELEVANSINYA DENGAN FALSAFAT MINANG; ALAM TAKAMBANG JADI GURU (PENDEKATAN HERMENEUTIKA BUDAYA CLIFFORD GEERTZ)}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 23205031046 Anisa Yurmanita}, year = {2026}, note = {Dr. Afdawaiza, S.Ag, M.Ag.}, keywords = {Qs. An-Nisa?: 34, Qiwamah, Hermeneutika Budaya, Clifford Geertz, Minangkabau, Tafsir Nusantara.}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75625/}, abstract = {QS. An-Nis{\=a}?: 34 merupakan salah satu ayat Al-Qur?an yang paling sering dirujuk dalam pembahasan relasi gender, khususnya terkait konsep qiwamah (kepemimpinan/tanggung jawab laki-laki terhadap perempuan). Dalam tradisi tafsir klasik, ayat ini kerap dipahami secara hierarkis dan dijadikan legitimasi relasi patriarkal. Namun, pembacaan tersebut tidak selalu sejalan dengan realitas sosial masyarakat Muslim yang beragam, termasuk masyarakat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan matrilineal. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis makna qiwamah dalam QS. An-Nisa?: 34 menurut tafsir klasik, tengah, dan modern; (2) mengkaji bagaimana falsafah Alam Takambang Jadi Guru membentuk relasi laki-laki dan perempuan dalam sistem sosial Minangkabau dan (3) menjelaskan bagaimana hermeneutika budaya Clifford Geertz dapat digunakan untuk mengontekstualkan QS. An-Nisa?: 34 dengan nilai-nilai budaya Minangkabau. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan, serta hermeneutika budaya Clifford Geertz sebagai kerangka analisis utama. Pendekatan thick description digunakan untuk membaca teks Al-Qur?an sebagai sistem simbol yang berinteraksi dengan konteks budaya lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna qiwamah bersifat dinamis dan kontekstual, tidak semata-mata menunjuk pada superioritas laki-laki, melainkan pada tanggung jawab sosial dan etis. Dalam budaya Minangkabau, relasi gender dibangun atas prinsip keseimbangan peran, di mana perempuan memiliki posisi sosial yang kuat sebagai bundo kanduang, sementara laki-laki berperan sebagai mamak yang bertanggung jawab secara moral dan komunal. Melalui hermeneutika budaya, QS. An-Nisa?: 34 dapat dibaca ulang sebagai konsep kepemimpinan relasional yang selaras dengan nilai keadilan, kesalingan, dan kearifan lokal. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan tafsir kontekstual berbasis budaya lokal (tafsir Nusantara) serta memperkaya diskursus teologi gender Islam dengan menawarkan model pembacaan qiwamah yang lebih egaliter dan kontekstual.} }