@phdthesis{digilib75637, month = {December}, title = {ANALISIS EKSPRESI GEN YANG RESPONSIF TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN PADA TANAMAN SENGON (Paraserianthes falcataria L. Nielsen)}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 21106040062 Susanti Maharani Karalo}, year = {2025}, note = {Anti Damayanti H, S.Si., M.Mol.Bio.}, keywords = {cekaman kekeringan; ekspresi gen; gen responsif kekeringan; Paraserianthes falcataria; quantitative-PCR}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75637/}, abstract = {Cekaman kekeringan merupakan salah satu faktor lingkungan utama yang membatasi pertumbuhan dan produktivitas tanaman kehutanan, termasuk sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen). Tanaman merespons kondisi ini melalui perubahan regulasi ekspresi gen yang berperan dalam metabolisme, transpor air, sinyal hormon, dan respons stres. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola ekspresi gen yang responsif terhadap cekaman kekeringan pada provenance Flores, Bandung, dan Solomon yang diberi perlakuan cekaman kekeringan selama 3, 10, dan 14 hari setelah penghentian pengairan. Analisis ekspresi gen dilakukan menggunakan metode quantitative PCR (qPCR) dengan gen target SOD, PLP, SUSY, ATP-{\ensuremath{\beta}}, TIP, AUX, WRKY, dan ADH, serta gen UBQ sebagai gen housekeeping. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh gen target bersifat responsif terhadap cekaman kekeringan, yang ditunjukkan oleh adanya perubahan tingkat ekspresi relatif gen dibandingkan kondisi kontrol pada berbagai durasi cekaman. Perubahan ini mencakup upregulation maupun downregulation. Setiap gen dan provenance memiliki pola ekspresi yang berbeda terhadap durasi cekaman. Provenance Flores dan Bandung umumnya menunjukkan respons ekspresi yang lebih aktif pada fase awal atau pertengahan cekaman, sedangkan provenance Solomon cenderung menunjukkan penekanan ekspresi pada fase awal dan pertengahan, dengan peningkatan pada fase akhir untuk gen tertentu. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa bahwa regulasi ekspresi gen berperan penting dalam mekanisme adaptasi sengon terhadap kondisi kekurangan air dan berpotensi dimanfaatkan sebagai dasar pengembangan provenance sengon toleran kekeringan.} }