%0 Thesis %9 Skripsi %A Nuha Banin Darajatin Aliyah, NIM.: 22102050027 %B FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI %D 2026 %F digilib:75704 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %K komunitas; pengembangan masyarakat lokal; pengelolaan sampah; konservasi mangrove %P 167 %T INTERVENSI KOMUNITAS DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KAWASAN KONSERVASI MANGROVE BAROS KABUPATEN BANTUL D.I YOGYAKARTA %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75704/ %X Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model intervensi komunitas yang diterapkan oleh Komunitas Bhumi Jatira dalam pengelolaan sampah di Kawasan Konservasi Mangrove Baros, Kabupaten Bantul. Permasalahan sampah yang terbawa aliran Sungai Opak serta meningkatnya kurangnya sistem pengelolaan sampah pada aktivitas volunter memberikan tekanan ekologis terhadap kawasan pesisir Baros. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Kerangka analisis penelitian merujuk pada Model Intervensi Komunitas Jack Rothman yang dipandang sepadan dengan konsep pengembangan masyarakat menurut Glen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola intervensi yang diterapkan oleh Komunitas Bhumi Jatira memiliki kesesuaian substantif dengan Model A: Locality Development. Hal tersebut tercermin dari pelibatan aktif anggota Keluarga Pemuda Peduli Baros (KP2B) dalam proses musyawarah, pengorganisasian struktur kelompok, serta pelaksanaan program Baros Trash System (BTS) dan Baros Trash Trip (BTT). Intervensi dijalankan melalui pendekatan non-direktif. Praktisi berperan sebagai fasilitator dan enabler. Peningkatan kapasitas dan kemandirian komunitas terlihat melalui kegiatan pelatihan, workshop pengelolaan sampah, serta diskusi pemetaan kebutuhan. Penelitian ini menegaskan bahwa model intervensi komunitas dapat bersifat fleksibel dan adaptif, sejalan dengan pandangan Jim Ife mengenai shared principles dan pandangan Ledwith. Kontribusi penelitian ini meliputi: (1) pemetaan empiris penerapan Model Locality Development dalam pengelolaan sampah di kawasan pesisir; (2) penguatan argumentasi bahwa analisis model intervensi komunitas dapat disederhanakan sesuai kebutuhan analisis lapangan tanpa menghilangkan substansi teoritis; serta (3) penyajian model praktik pemberdayaan komunitas berbasis local ownership, learning by doing, dan penguatan kapasitas pemuda yang berpotensi direplikasi pada wilayah pesisir lainnya. %Z Khotibul Umam, M.Si.