@phdthesis{digilib75748, month = {January}, title = {KRITIK IDEOLOGI TERHADAP AKTUALISASI PARADIGMA JALAN TENGAH NAHDLATUL ULAMA OLEH PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA ERA KEPEMIMPINAN YAHYA CHOLIL STAQUF}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 21105010072 Zainul Muhaimin Syafiq}, year = {2026}, note = {Ali Usman, M.Si}, keywords = {Komite Hijaz; Nahdlatul Ulama; Humanitarian Islam; kritik ideologi; relasi kuasa; posthumanisme}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75748/}, abstract = {Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di dunia, secara konsisten mengusung paradigma Jalan Tengah (tawassuth, tawazzun, tasamuh, dan i?tidal) sebagai strategi menghadapi perkembangan zaman. Di bawah kepemimpinan Yahya Cholil Staquf, visi ini diaktualisasikan melalui proyeksi-internasionalisasi bernama Humanitarian Islam (HI). Namun, terdapat kekhawatiran bahwa paradigma Jalan Tengah ini hanya menjadi apologi atau branding politik{--}mengingat adanya keterbelakangan di berbagai bidang serta kebijakan organisasi khususnya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam tindak tanduk; atas pengkebirian ideologi progresif akar rumput, penciptaan konsepsi secara prematur, penerimaan konsensi mineral tambang, dan absennya pendampingan dan pengabdian subtantif terhadap pemberdayaan dan pematangan bagi potensi kemaslahatan ummat-grassroot. Paradigma Jalan Tengah sebagai tuntunan cara berpikir dan cara bertindak bagi para Nahdliyin, seringkali terperangkap pada aspek kepentingan primordial-temporalfinansial. Alih-alih mengharapkan adanya bentuk transformasi atas nilai, justru terjebak pada dekadensi relasi kuasa bersama, dalam membentuk adanya ketimpangan, kegagapan, dan keterbelakangan itu sendiri. Dengan begitu, penelitian ini menyoroti pada dua persoalan utama: Pertama, bagaimana konsep suci dan murni dari paradigma Jalan Tengah NU? Kedua, bagaimana aktualisasi paradigma Jalan Tengah oleh PBNU di era Yahya Cholil Staquf jika ditinjau melalui kritik ideologi?. Adapun penelitian ini bertujuan untuk menemukan kejelasan dan ketegasan konsep Jalan Tengah NU secara konstruktif-argumentatif serta menguji kematangan program global HI melalui pembacaan teori posthuman dan relasi kuasa. Dalam hal ini penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka dan wawancara langsung, dengan teknik penelitian yang digunakan dari variasi komponen analisis Foucauldian, beserta kerangka teori keterpengaruhan yang meliputi studi genealogi-arkeologi, postmodernposthuman, untuk membedah status ontologi dan basis epistemologi secara integral dalam kajian onto-epistemik filsafat kontemporer. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa paradigma Jalan Tengah NU saat ini cenderung berubah pada haluan ?Jalan Lengah? akibat oportunisme dan elitisme sosial-politik. HI sebagai ?konsep payung? masih bersifat amorf (tidak jelas) dan kurang memiliki perangkat Metodologi dan ideologi yang terukur dan berdasar di tingkat akar rumput. Ditemukan adanya jurang pemisah antara retorika perdamaian global di panggung internasional dengan hilangnya perlindungan nyata terhadap kaum tertindas, marginalisasi material, eksploitasi alam, pada level lokal. Selain itu, beberapa kebijakan dan kebijaksanaan NU bersama HI mencerminkan adanya patronase dan glorifikasi yang menggerogoti otonomi-potensi-organisasi-ideologi. Hal tersebut bisa dilihat dari ketertinggalan dalam menggunakan humanisme modernitas ? antroposentrisme superioritas ? tradisionalisme absurditas yang menolak gagasan postmodern ? posthuman ? kehidupan baru, sehingga belum mampu merespons tantangan era kapital baru secara radikal.} }