%0 Thesis %9 Skripsi %A Maulida Nur Liliyani, NIM.: 20106040046 %B FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI %D 2026 %F digilib:75749 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %K 2,4-Dichlorophenoxyacetic Acid; Guazuma ulmifolia Lam.; Induksi Kalus; Kinetin %P 74 %T INDUKSI KALUS DAUN JATI BELANDA (Guazuma ulmifolia Lam.) DENGAN PENAMBAHAN HORMON 2,4-DICHLOROPHENOXYACETIC ACID DAN KINETIN %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75749/ %X Pemanfaatan tanaman sebagai alternatif pengobatan di Indonesia masih tinggi. Salah satu tanaman yang digunakan adalah jati belanda (Guazuma ulmifolia Lam.) karena memiliki banyak manfaat seperti menurunkan LDL dan kolesterol darah. Tingginya potensi meningkatkan eksploitasi tanaman sehingga perlu adanya konservasi melalui perbanyakan secara in vitro. Keberhasilan induksi kalus dipengaruhi oleh jenis dan konsentrasi hormon khususnya auksin dan sitokinin. Penelitain ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian hormon 2,4-D dan kinetin pada induksi kalus daun muda Guazuma ulmifolia. Penelitian dilakukan di laboratorium embriologi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta dari bulan Januari-Desember 2025. Metode yang digunakan adalah metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 12 perlakuan. Eksplan ditanam pada media MS0 dengan variasi hormon 2,4-D (0,1; 0,3; dan 0,5 ppm) dan kinetin (0,1 dan 0,3 ppm). Eksplan diinkubasi selama 10 minggu, kemudian dipanen dan diamati morfologi dan berat kalusnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan 0,5 ppm 2,4-D (P9) mampu menginduksi kalus dengan cepat yaitu 14 HST. Perlakuan dengan 2,4-D 0,1 ppm dan kinetin 0,3 ppm (P5) mampu membentuk kalus dengan bobot segar tertinggi yaitu 0,405gram dan membentuk kalus dengan tekstur kompak yang baik untuk menghasilkan metabolit sekunder. Pada perlakuan 0,3 ppm 2,4-D dan 0,3 ppm kinetin (P8) mampu membentuk kalus dengan tekstur remah yang baik untuk proses perbanyak individu. Kesimpulan yang dapat diambil adalah pemberian hormon 2,4-D dan kinetin dapat menginduksi eksplan daun Guazuma ulmifolia dengan baik. Perlakuan P9 optimal dalam menginduksi kalus dengan cepat, perlakuan P5 optimal dalam menghasilkan kalus kompak dengan berat tertinggi, perlakuan P8 optimal dalam menghasilkan kalus remah. %Z Dr. Ika Nugraheni Ari Martiwi, S.Si., M.Si.