TY - THES N1 - Drs. Rahmat Fajri, M.Ag. ID - digilib75875 UR - https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75875/ A1 - Azza Altuffina Dewi, NIM.: 21105020017 Y1 - 2026/01/13/ N2 - Penelitian ini membahas tradisi Saparan Kalibuko, yaitu salah satu tradisi kejawen bercorak Islam yang berada di daerah perbukitan Kabupaten Kulon Progo. Tradisi kejawen adalah tradisi yang rentan disalahpahami, sehingga penarasian makna simbolik menjadi penting untuk meluruskan maksud dan tujuan. Setelah pertama kali didokumentasikan pada tahun 1999, narasi makna simbolik tradisi ini belum pernah ditelusuri kembali, sehingga sehingga pada 2025, dilakukan peninjauan kembali dan menemukan bahwa ada pergeseran makna. Oleh karena itu, untuk mendalami makna simbolik terkini dan memahami dinamikanya, penelitian ini mengambil fokus yang mencakup: (1) makna simbolik tradisi Saparan Kalibuko dan (2) dinamika pemaknaan tradisi Saparan Kalibuko. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif di mana data didapatkan dengan beberapa cara, yaitu wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, sehingga informasi terkait bisa didapatkan secara menyeluruh. Adapun analisisnya menggunakan pendekatan antropologi simbolik yang dikembangkan oleh Clifford Geertz dengan konsep kunci thick description sebagai metode untuk menafsirkan makna simbolik suatu ritual, sehingga sistem makna dapat digambarkan dengan baik. Teori yang digunakan juga memperluas lingkup Geertz pada poin tentang ketegangan dan ambiguitas makna simbolik serta mekanisme ekstensi makna untuk mendapatkan gambaran dinamika pemaknaan yang ditemukan dalam tradisi Saparan Kalibuko. Hasil penelitian ini adalah bahwa tradisi Saparan Kalibuko merupakan manifestasi dari gagasan-gagasan tentang rasa syukur, penghormatan, keimanan, dan solidaritas masyarakat Kalibuko yang diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol narasi sejarah, tatanan ritual, sesaji, prosesi, dan aturan-aturan. Implikasinya menunjukkan prinsip keselarasan hidup masyarakat Kalibuko yang menjaga harmoni vertikal dengan Tuhan dan harmoni horisontal kepada sesama makhluk. Adapun dinamika pemaknaan simbol yang sifatnya eksplisit, yaitu pada sesaji, mengalami pergeseran halus setelah 26 tahun, menyesuaikan realitas masyarakat terkini yang semakin erat dalam memegang filosofi keislaman karena berada dalam konteks keberlanjutan proses Islamisasi bertahap sejak kunjungan Wali Songo di masa lalu. Beberapa pemaknaan ditemukan menggunakan mekanisme ekstensi bahasa dalam pembentukkan kerangka simbolik yang baru, yang secara keseluruhan menunjukkan keberhasilan simbol untuk tetap menjadi sumber daya budaya yang memadai bagi masyarakat Kalibuko di tengah realitas yang dinamis. PB - UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA KW - makna simbolik; Tradisi Saparan Kalibuko; kenduri M1 - skripsi TI - MAKNA SIMBOLIK TRADISI SAPARAN KALIBUKO: DINAMIKA PEMAKNAAN DI PEDUKUHAN KALIBUKO, KULON PROGO (Perspektif Antropologi Interpretatif Clifford Geertz) AV - restricted EP - 101 ER -