TY - THES N1 - Mu'tashim Billah, S.H.I., M.H., selaku ID - digilib75908 UR - https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75908/ A1 - Muchyi Ali, NIM.: 22103060049 Y1 - 2026/01/27/ N2 - Model hijab telah menjadi isu aktual di masyarakat Indonesia, di mana praktik berhijab sering kali menimbulkan pro dan kontra akibat pengaruh budaya asing, trend fashion, dan pemahaman syariat yang kaku. Meskipun ulama sepakat bahwa hijab wajib bagi Muslimah, banyak perempuan mengenakan model hijab yang dianggap menyimpang, seperti hijab tipis yang memperlihatkan rambut atau leher, karena memandangnya sebagai ekspresi modernitas daripada kewajiban menutup aurat. Penelitian ini mengkaji pemikiran Fatima Mernissi, seorang feminis Muslim yang memandang hijab sebagai alat patriarki untuk membatasi perempuan, dan Muhammad Syahrur, yang menggunakan pendekatan hermeneutika kontemporer untuk mereinterpretasi teks Islam agar relevan dengan zaman modern. Kajian ini bertujuan menganalisis metodologi penafsiran keduanya terhadap konsep hijab melalui kaca mata feminisme kritis, serta implikasinya terhadap pemahaman hijab. Penelitian ini menggunakan jenis kualitatif dengan pendekatan library research, bersifat deskriptif-analisis-komparatif untuk memahami teks dalam konteks sosial, budaya, serta historis. Data primer bersumber dari karya utama kedua, sementara data sekunder meliputi buku, jurnal, dan hasil penelitian terkait. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, dianalisis dengan metode konten dan komparatif untuk membandingkan argumen, dalil, serta implikasi hukum. Kerangka teori yang digunakan adalah feminisme kritis, yang menekankan dekonstruksi struktur patriarki dalam teks agama, interseksionalitas, serta pemberdayaan perempuan sebagai subjek otonom dalam menafsirkan dan mempraktikkan hijab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fatima Mernissi dan Muhammad Syahrur memiliki perbedaan metodologis yang signifikan dalam memahami hijab, namun beririsan dalam tujuan kritisnya. Mernissi menggunakan pendekatan historis-kritis dengan menempatkan hijab sebagai konstruksi sosial-politik yang lahir dari relasi kuasa patriarkal, sehingga pemaknaannya cenderung relatif dan kontekstual. Sebaliknya, Syahrur mengembangkan hermeneutika ?ud?d yang menetapkan batas minimal aurat secara normatif, namun tetap memberi ruang fleksibilitas dalam bentuk dan model berpakaian sesuai konteks sosial. Keduanya sama-sama menolak pemaksaan model hijab tunggal serta mengkritik pembacaan tekstual yang membatasi otonomi perempuan. Dalam perspektif feminisme kritis, pemikiran Mernissi dan Syahrur merepresentasikan upaya dekonstruksi terhadap dominasi tafsir patriarkal dalam diskursus hijab, sekaligus menegaskan bahwa hijab harus dipahami sebagai praktik etis yang berorientasi pada keadilan, kemaslahatan, dan perlindungan martabat manusia (?if? al-?ir?), sehingga relevan bagi perumusan pemahaman hijab yang kontekstual dan berkeadilan gender. PB - UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA KW - hijab; Fatima Mernissi; Muhammad Syahrur; critical feminism; contemporary Islamic thought M1 - skripsi TI - MODEL HIJAB: STUDI KOMPARASI PEMIKIRAN FATIMA MERNISSI DAN MUHAMMAD SYAHRUR AV - restricted EP - 131 ER -