<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>HERMENEUTIKA HADIS LARANGAN ISTRI MEMBELANJAKAN HARTANYA SENDIRI</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 22105050036</mods:namePart><mods:namePart type="family">M. Raihan Adha Putra</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Pemahaman terhadap hadis yang melarang istri membelanjakan hartanya sendiri&#13;
selama ini sering berhenti pada makna lahiriah teks. Akibatnya, izin suami kerap&#13;
diposisikan sebagai ketentuan yang bersifat mutlak dalam setiap aktivitas ekonomi&#13;
istri, tanpa disertai pembacaan yang memperhatikan latar sosial kemunculan hadis,&#13;
maksud penyampaiannya, serta nilai keadilan yang menjadi ruh ajaran Islam.&#13;
Ketika hadis tersebut dipahami secara kaku dan terlepas dari realitas historis&#13;
maupun sosial, potensi munculnya ketegangan dalam hubungan suami-istri serta&#13;
ketimpangan relasi gender menjadi sulit dihindari. Cara baca semacam ini tidak&#13;
jarang melahirkan praktik pembatasan ekonomi terhadap perempuan yang justru&#13;
bertentangan dengan prinsip dasar Islam tentang keadilan dan penghormatan&#13;
terhadap hak individu.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menelaah kualitas hadis larangan istri&#13;
membelanjakan hartanya sendiri dari aspek sanad serta menafsirkan maknanya&#13;
secara kontekstual dengan menggunakan pendekatan hermeneutika Nurun Najwah.&#13;
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif,&#13;
yang dilakukan melalui analisis sanad, kajian jarḥ wa ta‘dil, serta pembacaan teks&#13;
hadis dengan perspektif gender. Pendekatan ini digunakan untuk menyingkap relasi&#13;
antara teks hadis, konteks kemunculannya, dan realitas sosial kekinian, sehingga&#13;
pemaknaan hadis tidak berhenti pada aspek normatif-formal, melainkan juga&#13;
menyentuh dimensi etis dan kemanusiaan.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis utama yang bersumber dari riwayat&#13;
Ibnu Mājah secara sanad berada pada kategori ḍaʿif. Meski demikian, kelemahan&#13;
tersebut tertutupi oleh adanya jalur periwayatan lain melalui Imām Aḥmad bin&#13;
Ḥanbal yang memiliki sanad kuat dan memenuhi kriteria ṣaḥīḥ li-dhātihī. Dengan&#13;
adanya jalur pendukung yang kredibel tersebut, kedudukan hadis pada jalur utama&#13;
mengalami peningkatan sehingga berada pada tingkat ḥasan li-ghayrihi. Dari sisi&#13;
pemaknaan, pendekatan hermeneutika menunjukkan bahwa hadis ini tidak&#13;
dimaksudkan sebagai pembatasan mutlak terhadap hak kepemilikan harta&#13;
perempuan, melainkan sebagai penegasan etika hubungan suami-istri yang&#13;
menekankan musyawarah, tanggung jawab bersama, dan keharmonisan rumah&#13;
tangga. Dengan demikian, hadis ini lebih tepat dipahami sebagai pedoman etis yang&#13;
bersifat kontekstual, bukan sebagai ketentuan hukum yang berlaku secara kaku dan&#13;
universal.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">297.125 Hadis</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-01-19</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>