TY - THES N1 - Achmad Dahlan, Lc., M.A. ID - digilib75943 UR - https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75943/ A1 - M. Raihan Adha Putra, NIM.: 22105050036 Y1 - 2026/01/19/ N2 - Pemahaman terhadap hadis yang melarang istri membelanjakan hartanya sendiri selama ini sering berhenti pada makna lahiriah teks. Akibatnya, izin suami kerap diposisikan sebagai ketentuan yang bersifat mutlak dalam setiap aktivitas ekonomi istri, tanpa disertai pembacaan yang memperhatikan latar sosial kemunculan hadis, maksud penyampaiannya, serta nilai keadilan yang menjadi ruh ajaran Islam. Ketika hadis tersebut dipahami secara kaku dan terlepas dari realitas historis maupun sosial, potensi munculnya ketegangan dalam hubungan suami-istri serta ketimpangan relasi gender menjadi sulit dihindari. Cara baca semacam ini tidak jarang melahirkan praktik pembatasan ekonomi terhadap perempuan yang justru bertentangan dengan prinsip dasar Islam tentang keadilan dan penghormatan terhadap hak individu. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah kualitas hadis larangan istri membelanjakan hartanya sendiri dari aspek sanad serta menafsirkan maknanya secara kontekstual dengan menggunakan pendekatan hermeneutika Nurun Najwah. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, yang dilakukan melalui analisis sanad, kajian jar? wa ta?dil, serta pembacaan teks hadis dengan perspektif gender. Pendekatan ini digunakan untuk menyingkap relasi antara teks hadis, konteks kemunculannya, dan realitas sosial kekinian, sehingga pemaknaan hadis tidak berhenti pada aspek normatif-formal, melainkan juga menyentuh dimensi etis dan kemanusiaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis utama yang bersumber dari riwayat Ibnu M?jah secara sanad berada pada kategori ?a?if. Meski demikian, kelemahan tersebut tertutupi oleh adanya jalur periwayatan lain melalui Im?m A?mad bin ?anbal yang memiliki sanad kuat dan memenuhi kriteria ?a??? li-dh?tih?. Dengan adanya jalur pendukung yang kredibel tersebut, kedudukan hadis pada jalur utama mengalami peningkatan sehingga berada pada tingkat ?asan li-ghayrihi. Dari sisi pemaknaan, pendekatan hermeneutika menunjukkan bahwa hadis ini tidak dimaksudkan sebagai pembatasan mutlak terhadap hak kepemilikan harta perempuan, melainkan sebagai penegasan etika hubungan suami-istri yang menekankan musyawarah, tanggung jawab bersama, dan keharmonisan rumah tangga. Dengan demikian, hadis ini lebih tepat dipahami sebagai pedoman etis yang bersifat kontekstual, bukan sebagai ketentuan hukum yang berlaku secara kaku dan universal. PB - UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA KW - Hadis Larangan Istri KW - Analisis Sanad KW - Hermeneutika Nurun Najwah KW - Pengelolaan Harta Rumah Tangga M1 - skripsi TI - HERMENEUTIKA HADIS LARANGAN ISTRI MEMBELANJAKAN HARTANYA SENDIRI AV - restricted EP - 112 ER -