%A NIM.: 22105030080 Muhammad Arya Khotimul Ashom %O Nafisatul Mu’Awwanah, M.A. %T BAHASA ISYARAT SEBAGAI SISTEM TRANSMISI VISUAL AL-QUR’AN: STUDI KASUS DI PONDOK PESANTREN TUNARUNGU DARUL ASHOM YOGYAKARTA %X Penelitian ini berangkat dari persoalan keterbatasan akses individu dengan hambatan pendengaran terhadap Al-Qur’an yang secara historis ditransmisikan melalui medium lisan dan auditori. Ketergantungan pada suara menyebabkan proses pembacaan, penghafalan, dan penjagaan lafaz Al-Qur’an tidak sepenuhnya dapat diakses oleh kelompok ini. Oleh karena itu, bahasa isyarat dipilih sebagai fokus kajian karena berfungsi sebagai medium visual yang memungkinkan ayat-ayat Al-Qur’an ditransmisikan dan direpresentasikan tanpa bergantung pada bunyi. Pondok Pesantren Tunarungu Darul Ashom Yogyakarta dipilih sebagai locus penelitian karena merupakan lembaga keagamaan yang secara konsisten menggunakan bahasa isyarat sebagai medium utama penyampaian Al-Qur’an serta memiliki sanad keilmuan hijaiyah isyarat yang terhubung dengan tradisi penyampaian Al-Qur’an di Arab Saudi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan penggunaan bahasa isyarat sebagai medium transmisi Al-Qur’an serta bentuk representasi visual ayat-ayat Al-Qur’an dalam praktik penyampaian keagamaan di pesantren tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi terhadap praktik penyampaian Al-Qur’an, wawancara mendalam dengan pengasuh pesantren dan ustadz, serta dokumentasi aktivitas keagamaan dan arsip kelembagaan. Objek material penelitian ini adalah penggunaan bahasa isyarat di Pondok Pesantren Tunarungu Darul Ashom Yogyakarta, dengan fokus pada fungsinya sebagai medium transmisi dan visualisasi ayat-ayat Al-Qur’an. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan merujuk pada kerangka historis transmisi Al-Qur’an dan teori representasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, bahasa isyarat berfungsi sebagai medium transmisi Al-Qur’an yang bersifat penuh dan sistematis. Transmisi dilakukan melalui sistem huruf hijaiyah isyarat yang memiliki legitimasi keagamaan, kesinambungan sanad, serta mekanisme verifikasi melalui praktik kitābah dan setoran hafalan. Kedua, representasi visual ayat-ayat Al-Qur’an memungkinkan struktur teks dihadirkan secara utuh tanpa medium auditori. Temuan ini menegaskan bahwa peralihan medium merupakan bentuk adaptasi dalam tradisi transmisi Al-Qur’an yang berfungsi sebagai pelengkap dari transmisi-transmisi yang telah ada sebelumnya, sehingga akses terhadap ayat-ayat Al-Qur’an tetap terbuka bagi individu dengan hambatan pendengaran. %K Bahasa Isyarat, Pesantren Darul Ashom, Transmisi Al-Qur’an, Representasi Visual %D 2026 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %L digilib76010