%0 Thesis %9 Skripsi %A Syifa Zulfazakiyah, NIM.: 22105050058 %B FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM %D 2026 %F digilib:76016 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %K Hadis Cuka, Ma’anil Hadis, Yusuf Qardhawi, Etika Konsumsi, Kontekstualisasi Hadis %P 94 %T KAJIAN MA’ANIL HADIS TENTANG CUKA SEBAGAI LAUK %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/76016/ %X Penelitian ini befokus pada kontekstualisasi dan relevansi hadis tentang cuka dalam era kontemporer dengan menggunakan pendekatan Yusuf Qardhawi. Hadis tentang cuka tidak hanya mengandung makna tekstual, tetapi juga memuat pesan moral yang kaya apabila dipahami secara kontekstual. Dalam konteks kehidupan modern, hadis ini relvan sebagai kritik terhadap berbagai persoalan sosial di masyarakat, khsusunya pada fenomena hedonisme konsumerisme berlebihan. Urgensi penelitian ini yaitu terletak pada upaya memahami hadis secara kontekstual guna menjawab sekaligus menawarkan solusi atas maraknya gaya hidup konsumtif berlebihan di era kontemporer. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini mencakup dua hal yaitu : pertama, analisis pemahaman hadis tentang cuka berdasarkan pemahaman hadis Yusuf Qardhawi. Kedua, bentuk kontekstualisasi dan relevansi hadis tentang cuka dalam konteks masyarakat masa kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan hadis tentang cuka sebagai sumber data primer. Data tersebut dianalisis menggunakan metodologi Yusuf Qardhawi. Yusuf Qardhawi menawarkan delapan langkah dalam metodenya, yaitu memahami hadis berdasarkan nash agama (Al-Qur’an dan Hadis), latar belakang, kondisi, tujuan utama hadis, serta memisahkan antara ghayah yang tetap dan wshilah yang berubah-ubah. Metode ini dipilih karena dinilai sejalan dengan kebutuhan zaman dan prinsip maqashid al-syari’ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis tentang cuka memiliki kehujahan yang diterima dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Lebih lanjut, melalui pendekatan Yusuf Qardhawi, hadis ini tidak sekedar dipahami sebagai anjuran konsumsi cuka, melainkan sebagai simbol etika konsumsi Islam yang menekankan nilai kesederhanaan, syukur, kemudahan, dan tidak berlebihan. Dengan demikian, hadis tentang cuka memiliki relevansi yang kuat dalam konteks kehidupan masyarakat kontemporer, khususnya sebagai kritik terhadap budaya konsumtif dan hedonistik. Penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman kontekstual hadis memungkinkan ajaran Nabi tetap aplikatif lintas ruang dan waktu tanpa kehilangan tujuan utama syariat Islam. %Z Dadi Nurhaedi S.Ag, M.Si.