%A NIM.: 24205031099 Adinda Fatimah Rahmawati %O Dr. Adib Sofia, M.Hum. %T TINJAUAN INTERTEKSTUALITAS PENCIPTAAN PEREMPUAN PADA ALKITAB KEJADIAN [2]: 21-23 DAN AL-QURAN SURAH AN-NISA [4]: 1 %X Narasi penciptaan perempuan merupakan tema sentral dalam kitab suci yang berimplikasi teologis dan sosial, terutama dalam pembentukan kedudukan laki-laki dan perempuan. Dalam tradisi Perjanjian Lama, perempuan digambarkan berasal dari tulang rusuk Adam (Kejadian 2:21–23), sedangkan Al-Qur’an menyampaikan penciptaan manusia dan pasangannya melalui konsep nafs wāḥidah tanpa penjelasan biologis eksplisit (QS. An-Nisā’ [4]:1). Perbedaan narasi ini bukan sekadar variasi bentuk, melainkan menghadirkan dinamika makna yang memengaruhi konstruksi teologis tentang relasi gender. Persoalan muncul ketika perbedaan tersebut dijadikan legitimasi bagi pandangan hierarkis. Narasi tulang rusuk kerap dipahami sebagai dasar subordinasi perempuan, sementara konsep nafs wāḥidah dalam sejumlah tafsir tetap dibaca dalam kerangka serupa. Akibatnya, teks suci sering digunakan untuk membenarkan ketimpangan sosial. Kondisi ini menuntut pembacaan yang tidak berhenti pada perbandingan isi, tetapi menelusuri bagaimana teks memproduksi dan mentransformasikan makna secara historis dan ideologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan intertekstual dengan merujuk pada teori Julia Kristeva yang memandang teks sebagai mozaik kutipan dan arena dialog dengan wacana sebelumnya. Al-Qur’an dibaca sebagai teks yang berinteraksi dengan tradisi Biblikal, bukan sebagai teks yang terpisah secara historis. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif berbasis studi pustaka dengan langkah-langkah: (1) identifikasi struktur narasi penciptaan perempuan dalam kedua teks, (2) pemetaan bentuk hubungan intertekstual yang terjadi, dan (3) analisis ideologeme untuk melihat pergeseran makna diproduksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak mengulang narasi penciptaan perempuan secara literal sebagaimana dalam tradisi Biblikal, melainkan menghadirkan pergeseran fokus dan pembingkaian ulang makna. Detail mengenai asal-usul biologis perempuan tidak ditegaskan kembali; sebaliknya, penekanan dialihkan pada kesatuan asal-usul manusia melalui konsep nafs wāḥidah. Pergeseran ini mengubah orientasi makna dari struktur biologis menuju prinsip ontologis kesatuan kemanusiaan. Relasi intertekstual yang teridentifikasi turut memperlihatkan perkembangan makna ini kemudian menjadi salah satu pijakan dalam lahirnya kajian gender dalam Islam, termasuk tafsir gender, hermeneutika feminis, dan tafsir tematik mengenai relasi laki-laki dan perempuan. %K Intertekstualitas, Narasi Penciptaan Perempuan, Akitab, Al-Qur’an %D 2026 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %L digilib76042