%0 Thesis %9 Skripsi %A Muflih Fathani Putra, NIM.: 18101020033 %B FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA %D 2025 %F digilib:76100 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %K Transformasi, Spiritual Company, Etika Bisnis %P 113 %T TRANSFORMASI BISNIS WAROENG STEAK AND SHAKE YOGYAKARTA TAHUN 2000-2022 M %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/76100/ %X Waroeng Steak And Shake (WSS) adalah salah satu bisnis kuliner yang berpusat di Yogyakarta yang mengusung konsep restoran steak dengan tempat yang nyaman, namun dengan harga murah. WSS resmi berdiri pada 4 September 2000 di Jalan Cendrawasih Demangan Yogyakarta, sama seperti bisnis konvensional pada umumnya. Namun seiring pertumbuhannya, WSS mulai bertransformasi dari yang awalnya konvensional beralih ke spiritual company. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap proses dan faktor apa saja yang mempengaruhi transformasi WSS dari bisnis konvensional ke spiritual company, serta apa saja dampak dari transformasi WSS bagi karyawan dan masyarakat sekitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi ekonomi dalam menganalisis kekuatan kebudayaan jika dihadapkan dengan munculnya perilaku dan perubahan ekonomi. Peneliti menggunakan teori antropologi ekonomi yang dikemukakan oleh Karl Paul Polanyi, bahwa ekonomi tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial dan budaya masyarakat. Pemilihan pendekatan ini bertujuan untuk melihat gejala ekonomi apa saja yang muncul dan bukan berfokus pada aspek material dan perilaku yang terlihat saja, tetapi juga pada motivasi dan latar belakang yang membentuk perilaku tersebut. Adapun teknik penulisannya menggunakan metodologi sejarah yang terdiri dari empat langkah sistematis, yakni pengumpulan sumber (heuristik), pengujian keabsahan sumber melalui kritik intern dan ekstern (verifikasi), pemaknaan terhadap data-data yang didapatkan (interpretasi) dan penulisan sejarah (historiografi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, WSS didirikan oleh pasangan suami istri Bapak Jody Brotosuseno dan Ibu Siti Haryani Nur Utami di teras depan rumah yang ia sewa. Kedua, WSS bertransformasi dalam tiga fase yakni, fase konvensional (2000-2007 M) merupakan masa perusahaan berorientasi pada keuntungan, fase transisi (2007-2010 M) merupakan masa-masa proses peralihan dari konvensional ke spiritual company, dan fase spiritual company (2010-2022) merupakan masa sepenuhnya WSS menjalankan spiritual company. Ketiga, terdapat beberapa faktor pendukung dan penghambat transformasi WSS dari konvensional ke spiritual company. Transformasi ini berdampak positif pada pertumbuhan perusahaan, tercermin dari ekspansi gerai yang mencapai 107 cabang pada tahun 2022 serta peningkatan kesejahteraan karyawan dan masyarakat melalui berbagai program keagamaan dan sosial. %Z Dr. Imam Muhsin, M.Ag.