@mastersthesis{digilib76153, month = {August}, title = {PENYALURAN DANA FILANTROPI DALAM KEBENCANAAN DI ERA DIGITAL : STUDI KASUS BAZNAS TANGGAP BENCANA REPUBLIK INDONESIA}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 23200011111 Abdul Hadi}, year = {2025}, note = {Ambar Sari Dewi, S.Sos., M.Si., Ph.D.}, keywords = {filantropi kebencanaan; TOE Framework; teknologi digital; BAZNAS tanggap bencana}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/76153/}, abstract = {Di era digital, penguatan transparansi dan akuntabilitas kelembagaan khususnya lembaga filantropi berbasis zakat dalam situasi kebencanaan seperti BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) menjadi semakin penting, seiring meningkatnya ekspektasi publik terhadap efektivitas, efisiensi, dan kolaborasi antar instansi. Namun, sistem digital yang ada belum sepenuhnya terintegrasi dan adaptif terhadap dinamika respon kebencanaan yang cepat. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses kelembagaan, pemanfaatan teknologi dalam distribusi dana kebencanaan, serta penerapan nilai 3A (Aman Syar?i, Aman Regulasi, Aman NKRI) di tingkat operasional. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif studi kasus, menggunakan kerangka Technology-Organization-Environment (TOE) Framework. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan pada unit yang terkait, dan telaah dokumen pada bulan Mei - Juni 2025. Delapan informan dipilih dengan teknik purposive. Kemudian alat untuk menganalisis data menggunakan grounded theory dengan tahapan open coding, axial coding, dan selective coding untuk mengidentifikasi tema, mengelompokkan kategori, dan menemukan hubungan antarkonsep. Temuan lapangan dipadukan dengan kerangka TOE dan nilai 3A guna membangun sintesis teori dan kontribusi konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyaluran bantuan BTB telah berjalan sistematis dari pengajuan hingga pelaporan. Adanya dukungan sistem digital internal dan pemanfaatan aplikasi external. Sisi lain beberapa tahapan masih bersifat manual. Hambatan utama ditemukan pada birokrasi otorisasi, keterbatasan SDM, keterpaduan sistem, serta minimnya infrastruktur di lapangan. Nilai-nilai 3A telah mulai diterapkan, namun indikator teknisnya belum sepenuhnya dituangkan dalam aturan formal dan diimplementasikan. Secara teoritis, penelitian ini menegaskan pentingnya adopsi teknologi yang kontekstual dalam lembaga filantropi. Secara praktis, direkomendasikan pengembangan sistem terpadu yang adaptif, akuntabel, transparan, serta penguatan regulasi berbasis nilai 3A untuk seluruh unit BAZNAS RI dan daerah. Arah penelitian selanjutnya mencakup system alignment dengan indikator teknis 3A, fleksibilitas regulasi pada situasi bencana, dan mekanisme koordinasi lintas lembaga yang lebih terstruktur.} }