@phdthesis{digilib76186, month = {August}, title = {KRISIS LINGKUNGAN DI WILAYAH SEKITAR TPST PIYUNGAN YOGYAKARTA (PERSPEKTIF SEYYED HOSSEIN NASR)}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 20105010090 Qamarusy Sya`ban}, year = {2025}, note = {Rosi Islamiyati, S.Ag., M.Ag.}, keywords = {Krisis Lingkungan, Ekoteologi, Seyyed Hossein Nasr, TPST Piyungan, Desakralisasi Alam, Antroposentrisme, Krisis Spiritual}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/76186/}, abstract = {Krisis lingkungan yang kian memburuk di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Yogyakarta, telah menjadi perhatian utama berbagai kalangan. Permasalahan ini mencerminkan adanya akar isu yang lebih mendalam dari sekadar aspek teknis atau ekonomi. Kerusakan lingkungan di TPST Piyungan Yogyakarta menjadi kasus nyata yang mencerminkan problem ekologis modern, mulai dari penumpukan sampah hingga dampak pencemaran bagi masyarakat. Selama ini, kajian Piyungan lebih menekankan aspek teknis dan sosial, padahal akar persoalan juga terkait dengan cara pandang manusia terhadap alam. Perspektif Seyyed Hossein Nasr penting digunakan karena menegaskan bahwa krisis lingkungan berawal dari krisis spiritual, yakni ketika manusia memandang alam secara antroposentris dan kehilangan kesakralannya. Dengan demikian, meneliti Piyungan melalui kerangka pemikiran Nasr diharapkan dapat menghadirkan pemahaman yang lebih komprehensif sekaligus relevan dengan masyarakat Yogyakarta yang religius. Penelitian ini ingin menjawab pertanyaan penelitian tentang bagaimana akar terjadinya krisis lingkungan menurut Seyyed Hossein Nasr dan bagaimana akar terjadinya krisis lingkungan di Piyungan Yogyakarta ditinjau dari perspektif ekoteologi Seyyed Hossein Nasr. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana akar terjadinya krisis lingkungan menurut Seyyed Hossein Nasr dan juga untuk mengetahui akar terjadinya krisis lingkungan di Piyungan Yogyakarta ditinjau dari perspektif Seyyed Hossein Nasr.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan metode studi kepustakaan. Data dikumpulkan melalui kajian literatur terhadap fenomena krisis lingkungan di TPST Piyungan, kemudian dianalisis menggunakan konsep ekoteologi Seyyed Hossein Nasr. Sumber data primer diperoleh dari dari berita yang menggambarkan tentang kerusakan lingkungan di Yogyakarta, seperti salah satu berita yang termuat dalam wahana lingkungan hidup (walhi) Yogyakarta, serta karya-karya Seyyed Hossein Nasr seperti Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man dan Religion and the Order of Nature. Data sekunder meliputi berbagai tulisan mengenai ekosofi atau kearifan ekologi, serta tulisan-tulisan yang berkaitan dengan pemikiran Seyyed Hossein Nasr dan beberapa sumber pendukung lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, akar terjadinya krisis lingkungan di TPST Piyungan, sesuai pandangan Nasr, terletak pada desakralisasi alam, dominasi sains modern yang materialistik dan antroposentris, serta krisis spiritual yang mendalam. Kedua, penumpukan sampah tak terkendali dan pencemaran air lindi di Piyungan adalah bukti nyata desakralisasi alam, di mana alam direduksi menjadi objek eksploitasi. Pengelolaan sampah yang cenderung teknokratis dan budaya konsumtif masyarakat menunjukkan pengaruh antroposentrisme dan sains modern. Puncaknya, krisis spiritual termanifestasi dalam ketidakselarasan antara nilai-nilai keagamaan (seperti konsep khalifah) dengan praktik pengelolaan lingkungan sehari-hari. Meskipun ada inisiatif spiritual lokal, upaya ini belum mampu mengatasi masalah secara fundamental akibat kuatnya pengaruh materialisme dan antroposentrisme.. Kata Kunci: Krisis Lingkungan, Ekoteologi, Seyyed Hossein Nasr, TPST Piyungan, Desakralisasi Alam, Antroposentrisme, Krisis Spiritual} }