@mastersthesis{digilib76372, month = {August}, title = {PERSEPSI SANTRI PUTRI TERHADAP PRODUK KOSMETIK HALAL DI PONDOK PESANTREN EDI MANCORO SEMARANG}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 23200011104 Naela Maghfiroh}, year = {2025}, note = {Dr. Subi Nur Isnaini, Lc.,M.A}, keywords = {kosmetik halal; santri putri; konsumsi simbolik; identitas religius}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/76372/}, abstract = {Penelitian ini mengkaji persepsi santri putri terhadap produk kosmetik halal di Pondok Pesantren Edi Mancoro Semarang dengan fokus pada bagaimana produk tersebut dipahami, dipilih, dan dimaknai dalam keseharian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis dan memadukan teori persepsi konsumen, perilaku konsumen Islami, Theory of Planned Behavior, dan konsep nilai simbolik (sign value) dari Jean Baudrillard. Pendekatan ini bertujuan memahami tidak hanya aspek fungsional dan normatif, tetapi juga dimensi simbolik dalam konsumsi kosmetik halal. Argumen utama penelitian ini adalah bahwa preferensi santri putri terhadap kosmetik halal tidak semata dilandasi oleh kepatuhan syariat, tetapi juga berfungsi sebagai sarana konstruksi identitas sebagai Muslimah yang saleh sekaligus modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan halal oleh santri tidak semata terbatas pada sertifikasi resmi (MUI/BPJPH) dan izin edar (BPOM), tetapi juga meliputi dimensi spiritual, etis, dan kesehatan (halal-thayyib). Label halal dipandang sebagai penjamin kesucian, keamanan, dan keberkahan produk, serta memperkuat rasa percaya diri sebagai Muslimah. Faktor yang memengaruhi keputusan konsumsi meliputi kandungan bahan, efektivitas, harga, testimoni lingkungan sosial, dan citra merek. Santri menunjukkan sikap kritis dan selektif, memposisikan kosmetik halal sebagai sarana perawatan diri sekaligus simbol identitas religius dan keterlibatan dalam modernitas. Dalam praktiknya, santri menunjukkan sikap kritis dan selektif, menjadikan konsumsi kosmetik halal sebagai bentuk kesalehan yang performatif sekaligus respons terhadap tuntutan visual dan sosial. Kosmetik halal dalam konteks ini tidak hanya berfungsi sebagai alat kecantikan, tetapi juga sebagai simbol religius yang menegaskan identitas sebagai santri yang taat sekaligus perempuan modern yang aktif dan representatif di ruang publik, termasuk media sosial. Melalui konsumsi simbolik ini, santri membentuk narasi diri yang kompleks, mereka tidak hanya beragama tetapi juga berpenampilan, menunjukkan bahwa kesalehan dan gaya dapat berjalan beriringan. Kosmetik halal yang selama ini lebih banyak berfokus pada perempuan Muslim kelas menengah perkotaan, sementara konteks komunitas religius tradisional seperti pesantren jarang diteliti. Santri putri berada di persimpangan antara internalisasi nilai-nilai keislaman yang kuat dan paparan arus modernitas, menjadikannya kelompok strategis untuk melihat bagaimana nilai religius berinteraksi dengan dinamika gaya hidup kontemporer. Penelitian ini berkontribusi pada perluasan kajian interdisipliner di bidang studi Islam, gender, dan sosiologi konsumsi melalui integrasi perspektif normatif dan simbolik, serta kontribusi praktis bagi produsen kosmetik halal, lembaga sertifikasi, dan pembuat kebijakan untuk merancang produk dan edukasi yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai komunitas pesantren, khususnya dalam melihat bagaimana produk halal bertransformasi menjadi alat produksi makna religius dan identitas dalam masyarakat Muslim kontemporer.} }