<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>STRATEGI PERLAWANAN PEDAGANG DAN KONSUMEN&#13;
TERHADAP KEBIJAKAN LARANGAN PAKAIAN BEKAS&#13;
IMPOR DI XT SQUARE YOGYAKARTA</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 19107020079</mods:namePart><mods:namePart type="family">Dimas Fadhlurrahman Asy'ari</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Kebijakan pelarangan impor pakaian bekas di Indonesia, yang bertujuan&#13;
melindungi industri lokal dan kesehatan masyarakat, telah memicu dinamika sosialekonomi&#13;
yang kompleks, terutama di tingkat masyarakat bawah.1 Penelitian ini&#13;
berfokus pada fenomena perlawanan sehari-hari (everyday resistance) yang&#13;
dilakukan oleh pedagang dan konsumen pakaian bekas terhadap kebijakan tersebut,&#13;
dengan lokasi studi kasus di XT Square Yogyakarta.1 Menggunakan pendekatan&#13;
kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini menganalisis strategi adaptif&#13;
dan perlawanan yang muncul dari kelompok subordinat sebagai respons terhadap&#13;
dominasi struktural negara.Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam&#13;
terhadap 10 informan, yang terdiri dari lima pedagang dan lima konsumen, serta&#13;
observasi lapangan di XT Square.&#13;
Teori Perlawanan Sehari-hari (Everyday Resistance) dari James C. Scott digunakan&#13;
untuk menginterpretasi temuan, yang menekankan bagaimana kelompok yang tidak&#13;
berdaya melakukan resistensi yang bersifat tersembunyi, non-konfrontatif, dan&#13;
kolektif.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa alih-alih melakukan perlawanan terbuka,&#13;
pedagang dan konsumen mengembangkan strategi yang bersifat tersembunyi dan&#13;
informal. Strategi perlawanan pedagang mencakup menyembunyikan stok pakaian&#13;
impor untuk menghindari razia, memanfaatkan media digital seperti WhatsApp dan&#13;
Instagram untuk transaksi personal, serta membangun jaringan informal dan&#13;
solidaritas antarpedagang. Sementara itu, perlawanan konsumen terwujud dalam&#13;
bentuk tetap mencari akses ke pakaian bekas impor melalui jalur alternatif,&#13;
didorong oleh pertimbangan ekonomi—seperti harga yang jauh lebih terjangkau—&#13;
serta tren fashion dan preferensi gaya hidup yang berorientasi pada keberlanjutan.&#13;
Temuan ini menegaskan bahwa kebijakan negara tidak selalu diterima tanpa&#13;
resistensi, melainkan memicu “titik resistensi” yang terwujud dalam praktik sosial&#13;
dan ekonomi sehari-hari. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman sosiologis&#13;
tentang bagaimana masyarakat kecil menggunakan “senjata kaum lemah” (weapons&#13;
of the weak) untuk mempertahankan ruang hidup dan menegosiasikan relasi kuasa&#13;
dengan negara.&#13;
Kata Kunci: perlawanan sehari-hari, pakaian bekas impor, ekonomi informal, XT&#13;
Square Yogyakarta, James C. Sco</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">301 Sosiologi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2025-08-20</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>