@phdthesis{digilib76489, month = {March}, title = {FENOMENA MNEMONIK DALAM SEJARAH HADIS PADA ABAD KODIFIKASI SERTA RELEVANSINYA DENGAN TEORI WALTER J. ONG}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 22105050095 Moh. Ali Mustofa}, year = {2026}, note = {Drs. Indal Abror, M.Ag.}, keywords = {mnemonik; kodifikasi hadis; oralitas; Walter J. Ong; transmisi hadis}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/76489/}, abstract = {Penelitian ini membahas fenomena mnemonik dalam sejarah hadis pada abad kodifikasi serta relevansinya dengan teori budaya lisan Walter J. Ong. Latar belakang penelitian ini berangkat dari problematika akademik mengenai bagaimana hadis dapat dijaga dan ditransmisikan secara akurat dalam tradisi lisan sebelum dikodifikasikan, serta bagaimana polemik pro dan kontra penulisan hadis pada abad ke-7 hingga ke-9 M dapat dipahami dalam kerangka teori peralihan budaya lisan ke tulisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk dan peran metode mnemonik dalam penjagaan hafalan hadis, menganalisis problematika penulisan hadis pada masa awal Islam, serta mengkaji relevansi teori oralitas Walter J. Ong terhadap dinamika kodifikasi hadis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari sumber primer berupa karya-karya sejarah hadis, literatur tentang problematika penulisan hadis, serta teori mnemonik dan budaya lisan, kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tradisi periwayatan hadis terdapat berbagai bentuk mnemonik, seperti pengorganisasian sanad sebagai organizational mnemonic, penggunaan formula bahasa (deklaratif, imperatif, dan naratif), pengulangan (reinforcement), hubungan guru-murid sebagai associative mnemonic, serta praktik majelis hadis sebagai ruang performatif. Fenomena ini selaras dengan karakteristik budaya lisan sebagaimana dijelaskan oleh Walter J. Ong, yang menekankan pentingnya pengulangan, formulaik, dan keterikatan komunitas dalam transmisi pengetahuan. Perbedaan sikap dari tokoh besar Islam dijelaskan sebagai sesuatu yang terjadi secara alami pada masyarakat lisan. Peralihan dari tradisi lisan ke dokumentasi tertulis pada masa kodifikasi membuat disiplin keilmuan hadis berkembang, karena sebagaimana penjelasan Ong, bahwa jika sebuah informasi dituliskan, pembaca akan memiliki ruang dan jarak untuk menganalisis serta merenungkannya.} }