%0 Thesis %9 Masters %A Ar Rasyid Fajar Nasrullah, NIM.: 23205032035 %B FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM %D 2026 %F digilib:76593 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %K epistemologi hadis, programming hadis, digitalisasi hadis, tantangan dan peluang, validitas hadis, ulumul hadis. %P 277 %T LANDASAN EPISTEMOLOGIS PROGRAMMING HADIS %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/76593/ %X Perkembangan medium transmisi dan akses hadis—dari periwayatan lisan, kodifikasi tulisan, hingga transformasi digital dan artificial intelligence—mendorong perubahan cara hadis diproduksi, didistribusikan, dan dipahami. Perubahan ini tidak hanya memunculkan problem teknis, tetapi juga problem epistemik: pergeseran otoritas keilmuan, kerentanan integritas data hadis digital (misalnya risiko peretasan/defacement), serta potensi bias dan manipulasi pada sistem komputasional yang dapat mengaburkan batas antara hadis dan non-hadis. Karena itu, penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk memetakan secara konseptual dinamika tantangan, peluang dan potensi ancaman kajian hadis di era digital–AI, sekaligus merumuskan landasan epistemologis programming hadis agar validitas hadis tetap dapat diverifikasi dan dipertanggungjawabkan dalam ekosistem digital. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif eksploratif dengan pendekatan filosofis-epistemologis berbasis studi pustaka (library research), diperkuat dengan eksplorasi data pendukung. Data dikumpulkan dari literatur ulumul hadis, kajian epistemologi, riset terkait digitalisasi dan programming hadis, pemetaan fenomena aplikasi/ekosistem hadis digital, serta wawancara dengan praktisi yang relevan. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis dan kritis dengan kerangka integrasi-interkoneksi antara filsafat ilmu (epistemologi), teknik informatika (programming), dan ilmu hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kajian hadis di era digital dan AI menghadapi tantangan berlapis—mulai dari pergeseran otoritas keilmuan dalam ruang digital, reduksi metodologi ulumul hadis ke format data dan antarmuka, otomatisasi dan disinformasi (termasuk risiko teks buatan mesin), hingga problem literasi digital—namun sekaligus ix membuka peluang berupa perluasan akses, efisiensi pengelolaan data, dan pengembangan metodologi baru yang lebih responsif terhadap ekosistem digital. Di atas tantangan–peluang tersebut, penelitian ini mengidentifikasi potensi ancaman eksistensial ketika integritas data digital runtuh, batas identitas hadis kabur, dan mekanisme verifikasi otoritatif tidak lagi bekerja, sehingga hadis berisiko kehilangan statusnya sebagai data epistemik yang dapat diverifikasi. Pada saat yang sama, penelitian ini merumuskan landasan epistemologis programming hadis: (1) sumber pengetahuan bersifat berlapis dari data digital, teks kitab, manuskrip/tradisi kodifikasi, periwayatan, hingga sunnah; (2) metode perolehan pengetahuan harus mengikuti struktur lapisan tersebut; dan (3) pengujian kebenaran menuntut distingsi validitas teknis sistem digital dan validitas epistemik hadis, yang kemudian disintesiskan dalam model validitas berlapis. Dengan kerangka ini, programming hadis diposisikan sebagai medan epistemologis baru yang membantu menjaga integritas transmisi hadis di ruang publik digital, dengan otoritas epistemik tetap bertumpu pada ulama/pengkaji hadis yang memahami epistemologi programming hadis, sementara programmer berperan sebagai penyempurna teknis sistem. Kata kunci: epistemologi hadis, programming hadis, digitalisasi hadis, tantangan dan peluang, validitas hadis, ulumul hadis. %Z Dr. Imam Iqbal., S.Fil.I., M.S.I.