<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>FLEXING ALA LANSIA: STUDI KASUS AKTIVITAS WISATA PENGUNJUNG LANSIA DI MUSEUM BENTENG VREDEBURG YOGYAKARTA</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 22107020057</mods:namePart><mods:namePart type="family">Anugerah Sufiana Ulfa</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Museum menjadi salah satu destinasi wisata yang relevan bagi lansia karena&#13;
mengintegrasikan aspek budaya, nostalgia, dan rekreasi santai. Di era digital,&#13;
kunjungan museum juga dimanfaatkan oleh lansia untuk mendokumentasikan&#13;
aktivitas wisata melalui foto dan video. Kajian flexing lansia dalam konteks&#13;
museum masih terbatas, sehingga fenomena ini menarik dikaji khususnya untuk&#13;
mengetahui motivasi lansia dalam melakukan kunjungan museum,&#13;
mendeskripsikan pemaknaan kunjungan museum sebagai ruang flexing ala lansia,&#13;
mengidentifikasi aktivitas yang merepresentasikan flexing lansia, serta&#13;
menganalisis respon pengelola museum terhadap pengunjung lansia di Museum&#13;
Benteng Vredeburg.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan&#13;
studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan&#13;
dokumentasi dengan melibatkan tujuh pengunjung lansia dan dua pengelola&#13;
museum. Teknik analisis data mengacu pada model Miles dan Huberman yang&#13;
meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini&#13;
diperkuat melalui teori dramaturgi Erving Goffman yang menekankan konsep front&#13;
stage, back stage, personal front, serta manajemen kesan.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Motivasi lansia melakukan&#13;
kunjungan museum terdiri dari motivasi eksternal (dorongan sosial), motivasi&#13;
internal (pengetahuan sejarah, nostalgia, dan rekreasi), serta motivasi media sosial&#13;
(keinginan untuk dikenal orang lain). (2) Kunjungan museum dimaknai sebagai&#13;
ruang ekspresi keaktifan, menampilkan diri, serta ruang rekreatif yang&#13;
menghadirkan nostalgia bagi lansia. (3) Aktivitas yang merepresentasikan flexing&#13;
lansia di Museum Benteng mencakup aktivitas aktif seperti dokumentasi kunjungan&#13;
museum melalui foto dan video, pemilihan spot yang menarik, serta unggahan hasil&#13;
dokumentasi melalui media sosial. (4) Pengelola museum memberikan respon yang&#13;
inklusif dengan memperhatikan kebutuhan lansia dalam aktivitas wisata, sekaligus&#13;
menjadi “iklan gratis” bagi lingkungan sosialnya. Temuan ini menunjukkan bahwa&#13;
museum dan media sosial menjadi front stage bagi lansia untuk menampilkan diri&#13;
melalui personal front berupa penampilan dan gaya. Sementara itu, back stage&#13;
menunjukkan kondisi yang tidak selalu terlihat di ruang publik seperti tantangan&#13;
fisik atau hambatan adaptasi digital. Proses adaptasi ini merupakan bentuk&#13;
manajemen kesan lansia untuk membangun citra sebagai lansia yang aktif dan&#13;
adaptif.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">305.26 Lansia - Aspek Sosial</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-05-04</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>