TY - THES N1 - Aida Hidayah, S. Th. I, M Hum ID - digilib76717 UR - https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/76717/ A1 - Fatimatuzzahro, NIM.: 19105030112 Y1 - 2025/09/11/ N2 - Penulisan ini mengkaji konsep ?aya? dalam Al-Qur?an dengan pendekatan tafsir maq??id? dan relevansinya dalam keharmonisan masyarakat kontemporer. Latar belakang penulisan ini merespon meningkatnya fenomena degradasi dan perfectionisme moral dalam masyarakat modern, baik di dunia maya dan nyata, yang berakar pada kesalahpahaman dalam memaknai konsep malu, dimana Islam menempatkan rasa malu sebagai nilai moral positif dan terpuji yang seharusnya melekat pada diri seorang muslim, sedangkan pandangan Barat modern cenderung mempersepsikan secara negatif karena dianggap membatasi kebebasan dan ekspresi, serta menghambat perkembangan diri, padahal salah satu tujuan fundamental syariat Islam adalah memperbaiki dan menyempurnakan akhlak. Penulisan ini bertujuan mengidentifikasi penguraian narasi rasa malu di dalam Al-Qur?an, menggali pemahaman tafsir maq??id? tentang konsep malu secara mendalam, dan mengeksplorasi penerapannya dalam kehidupan modern. Kajian ini ditelaah melalui metode kualitatif dengan pengumpulan data berbasis studi pustaka dan dipaparkan secara deskriptif. Hasil penulisan ini dapat disimpulkan bahwa konsep ?aya? dalam Al-Qur?an berkaitan erat dengan rasa malu yang didasari keimanan, kesadaran moral, etika atau akhlak, dan penjagaan kehormatan diri. ?aya? tidak sekadar rasa malu emosional, melainkan berperan sebagai etika dan moralitas sosial dengan dimensi protektif dan produktif yang mendukung maq??id asy-syar??ah, yakni: penjagaan atas agama, akal, jiwa, keturunan, harta, negara dan alam, dan maq??id Al-Qur?an, yakni ?al?? al-fard?, ?al?? al-mujtama?, ?al?? al-?alam, serta berperan sebagai i?lah ?aqidah, nu?um al-mujtama? dan ta?kid al-akhlak. Rasa malu juga memiliki tujuan yang selaras dengan nilai pokok Al-Qur?an yang meliputi al-?adalah, al-ins?niyah, al-mus?w?ah, al-was??iyah, at-ta?arrur wa al-mas?uliyah. Dalam masyarakat kontemporer, nilai malu masih tetap relevan diterapkan sebagai prinsip kontrol diri dan penjaga etika sosial, sekaligus memperkuat nilai tanggungjawab, integritas, dan kesadaran moral dalam menghadapi tantangan globalisasi media, budaya konsumerisme, dan krisis moralitas. ?aya? berfungsi menyeimbangkan kesadaran moral manusia antara hilangnya rasa malu dan rasa malu yang berlebihan. Dengan demikian, ?aya? dapat menjadi dasar pembentukan moral yang proporsional dan solutif terhadap krisis moral etika masyakarat modern guna nilai malu tetap berfungsi sesuai tujuan syariat tanpa menghambat perkembangan diri. PB - UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA KW - ?aya?; tafs?r maqa?id?; krisis moral kontemporer M1 - skripsi TI - KONSEP HAYA? DALAM AL-QUR?AN PERSPEKTIF TAFSIR MAQASIDI DAN RELEVANSINYA TERHADAP KRISIS MORAL KONTEMPORER (DEGRADASI DAN PERFECTIONISME MORAL) AV - restricted EP - 192 ER -