%A NIM.: 22105050053 Zakia Nurkholishoh %O Dr. Mahatva Yoga Adi Pradana, M.Sos. %T FENOMENA MENYEBARKAN BERITA HOAKS DI MEDIA SOSIAL TIKTOK (Studi Hadis Berkata Jujur, Apa adanya dan Tidak Berlebihan) %X Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah paradigma interaksi sosial, khususnya melalui platform TikTok yang sangat populer di kalangan Generasi Z karena algoritma For You Page (FYP) yang canggih. Namun, popularitas ini membawa dampak negatif berupa masifnya penyebaran berita hoaks yang sering kali mengeksploitasi situasi krisis untuk memicu kepanikan publik. Fenomena ini terlihat nyata pada peristiwa banjir Aceh Tamiang 2025, di mana informasi palsu mengenai penemuan mayat dan identitas relawan kesehatan menyebar luas tanpa verifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena penyebaran hoaks di TikTok selama bencana tersebut serta melakukan kontekstualisasi hadis riwayat Muslim nomor 4727 mengenai perintah berkata jujur, apa adanya, dan tidak berlebihan sebagai panduan etis di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research). Sumber data primer mencakup kitab Shahih Muslim dan karya Yusuf al-Qaradawi, sementara data sekunder diperoleh dari literatur ilmiah serta observasi digital di platform TikTok. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitik menggunakan Teori Komunikasi Lasswell untuk membedah aktor, pesan, dan dampak hoaks, serta Teori Ma’anil Hadis dengan pendekatan Yusuf al-Qardhawi untuk menggali makna tekstual dan kontekstual hadis kejujuran. Langkah-langkah pemahaman hadis meliputi integrasi dengan petunjuk Al-Qur'an, penghimpunan hadis setema, hingga pembedaan antara sarana yang berubah dan tujuan yang tetap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebaran hoaks saat banjir Aceh 2025 di TikTok dilakukan oleh pengguna biasa yang bertindak sebagai amplifier pesan sensasional, diperkuat oleh algoritma FYP yang memprioritaskan viralitas di atas akurasi. Kontekstualisasi hadis kejujuran menegaskan bahwa nilai as-sidqu bersifat universal dan harus diimplementasikan melalui tanggung jawab digital, yang mencakup Shidq al-Qalbi (kejujuran niat), Shidq al-Lisan (akurasi informasi), dan Shidq al-'Amal (integritas rekam jejak). Simpulan penelitian ini menekankan bahwa kejujuran bukan sekadar teori moral, melainkan instrumen praktis untuk memutus rantai misinformasi melalui budaya tabayyun digital dan berpikir kritis, guna menjaga stabilitas sosial di tengah arus informasi yang tidak terkendali Kata Kunci: Hoaks, TikTok, Hadis, Kejujuran, Banjir Aceh Tamiang 2025. %K Hoaks, TikTok, Hadis, Kejujuran, Banjir Aceh Tamiang 2025 %D 2026 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %L digilib76742