@book{digilib76898, volume = {Cet. 1}, month = {April}, title = {FILSAFAT SOSIOLOGI AGAMA Genealogi, Konsep, Paradigma, dan Tokoh Barat-Islam dalam Konteks Indonesia}, author = {- Dr. Munawar Ahmad, M.Si}, address = {Yogyakarta}, publisher = {Jogja Ilmu Media}, year = {2026}, keywords = {filsafat agama; epistemologi agama; ontologi agama; modernitas; sekularisasi; pluralisme; spiritualitas, agama digital, konstruksi sosial, peradaban.}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/76898/}, abstract = {Filsafat Sosiologi Agama merupakan kajian interdisipliner yang berupaya menjembatani refleksi filosofis tentang agama dengan analisis sosiologis mengenai peran, fungsi, transformasi, dan posisi agama dalam kehidupan sosial manusia. Buku ini berangkat dari kesadaran bahwa agama tidak hanya dapat dipahami sebagai sistem keyakinan teologis, tetapi juga sebagai fenomena sosial, kultural, historis, dan simbolik yang terus berinteraksi dengan perubahan struktur masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif tentang agama memerlukan dialog antara filsafat yang menanyakan hakikat, makna, dan kebenaran agama dengan sosiologi yang mengkaji praktik, institusi, relasi kekuasaan, dan dampak sosial agama. Buku ini menelusuri perkembangan pemikiran filsafat agama sejak tradisi klasik hingga kontemporer, mencakup persoalan ontologi agama, epistemologi keagamaan, sumber pengetahuan religius, pengalaman spiritual, rasionalitas iman, serta hubungan antara wahyu, akal, dan realitas sosial. Pada saat yang sama, buku ini menguraikan genealogi sosiologi agama melalui kontribusi para pemikir klasik seperti Auguste Comte, Karl Marx, {\'E}mile Durkheim, Max Weber, hingga perkembangan teori-teori kontemporer mengenai sekularisasi, desekularisasi, pluralisme agama, globalisasi, identitas, dan agama digital. Secara konseptual, buku ini menunjukkan bahwa agama memiliki dimensi ganda sebagai sumber makna eksistensial dan sebagai institusi sosial. Sebagai sumber makna, agama membantu manusia memahami asal-usul, tujuan, dan nilai kehidupan. Sebagai institusi sosial, agama berperan dalam membangun solidaritas, legitimasi kekuasaan, kontrol sosial, pembentukan identitas kolektif, serta produksi nilai dan norma yang mengatur kehidupan bersama. Dalam perspektif ini, agama dipahami sebagai salah satu mekanisme utama pembentukan realitas sosial yang terus mengalami reinterpretasi sesuai dengan perubahan konteks historis dan peradaban. Buku ini juga membahas berbagai perdebatan mendasar dalam filsafat sosiologi agama, termasuk hubungan antara agama dan modernitas, agama dan sains, agama dan politik, agama dan kapitalisme, agama dan teknologi, serta agama dan konstruksi identitas sosial. Perhatian khusus diberikan pada transformasi agama di era digital, ketika otoritas keagamaan semakin terdesentralisasi, praktik keberagamaan bermigrasi ke ruang virtual, dan algoritma mulai memengaruhi produksi, distribusi, serta konsumsi pengetahuan keagamaan. Kondisi ini melahirkan tantangan baru bagi pemahaman tentang otoritas, komunitas, dan pengalaman religius dalam masyarakat kontemporer. Melalui pendekatan historis, filosofis, hermeneutik, dan sosiologis, buku ini menawarkan kerangka integratif untuk memahami agama sebagai fenomena multidimensional yang tidak dapat direduksi hanya pada aspek teologis maupun sosiologis semata. Agama dipandang sebagai ruang perjumpaan antara pencarian makna, konstruksi pengetahuan, pengalaman spiritual, dan dinamika sosial yang membentuk peradaban manusia dari masa ke masa. Pada akhirnya, buku ini mengajukan tesis bahwa masa depan studi agama memerlukan paradigma yang mampu mengintegrasikan refleksi filosofis tentang makna dan kebenaran dengan analisis sosiologis tentang praktik dan struktur sosial. Dengan demikian, filsafat sosiologi agama tidak hanya berfungsi sebagai kajian akademik mengenai agama, tetapi juga sebagai upaya memahami bagaimana manusia membangun makna, komunitas, dan peradaban di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks.} }