%A NIM.: 22105020019 Sri Juniar Rahmah %O Khairullah Zikri, S.Ag., MAStRel. %T INTERAKSI SOSIAL ANTAR UMAT BUDDHA DAN ISLAM DI DESA PENAMPI, BENGKALIS %X Indonesia adalah Negara yang memiliki banyak variasi dalam hal agama, etnis, dan budaya. Di satu sisi, hal ini menjadi kekuatan bagi bangsa, namun disisi lain bisa memicu konflik sosial jika tidak dikelola dengan baik. Desa Penampi yang terletak di Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, adalah salah satu contoh komunitas yang berhasil mempertahankan keharmonisan di tengah perbedaan keyakinan, di mana warga Muslim dan Buddha hidup berdampingan dengan damai di lingkungan desa yang sama. Keadaan ini menarik untuk diteliti mengingat dinamika keagamaan yang khas di desa tersebut, termasuk sejarah komunitas Tionghoa yang beralih dari Konghucu ke Buddha tanpa menimbulkan konflik sosial. Dengan latar belakang tersebut, penelitian ini mengajukan dua pertanyaan utama: bagaimana pola interaksi sosial antara umat Islam dan Buddha di desa Penampi, dan nilai-nilai lokal apa saja yang mendukung keharmonisan tersebut. Kajian ini mengadopsi teori solidaritas sosial dari Emile Durkheim sebagai landasan analisis, terutama tentang konsep collective conscience, solidaritas mekanik, dan solidaritas organik. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga cara yaitu observasi langsung di desa Penampi, wawancara mendalam dengan tokoh agama Islam dan Buddha, kepala desa, serta anggota masyarakat setempat, dan juga melalui dokumentasi. Data yang berhasil lalu dikumpulkan dan dianalisis dengan cara deskriptif-interpretatif untuk memahami makna sosial yang mendasari praktik kerukunan yang terjadi di masyarakat. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa hubungan sosial antara komunitas Islam dan Buddha di desa Penampi berlangsung secara damai dan harmonis, didukung oleh nilai-nilai lokal seperti toleransi, kerjasama, musyawarah, dan penekanan pada identitas kolektif sebagai masyarakat desa. Melalui pandangan Durkheim, nilai-nilai ini menciptakan dua tingkat solidaritas sekaligus yaitu solidaritas mekanik yang bekerja melalui conscience collective berupa nilai-nilai umum yang dianut lintas iman, dan solidaritas organik yang berfungsi melalui saling ketergantungan antara kelompok Muslim dan Buddha dalam aspek sosial serta ekonomi desa. Keduanya bekerja secara bersamaan dan saling menguatkan, menciptakan kohesi sosial yang kuat dan mampu bertahan. Penelitian ini menegaskan bahwa toleransi yang paling efektif adalah yang muncul dari akar lokal, dari tradisi, nilai-nilai dan interaksi sehari-hari masyarakat itu sendiri. %K Interaksi Sosial, Solidaritas Sosial, Durkheim, Toleransi Antar Umat Beragama %D 2026 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %L digilib77018