<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>KEMATANGAN BERAGAMA PESERTA SEKOLAH LINTAS IMAN ANGKATAN XVI TAHUN 2025</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 22105020029</mods:namePart><mods:namePart type="family">Muhammad Ihsanul Hafidhin</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Keberagaman agama tidak selalu secara otomatis melahirkan sikap inklusif dalam&#13;
kehidupan sosial. Tidak semua individu beragama mampu menerima perbedaan,&#13;
berdialog secara terbuka, dan mengelola identitas keagamaannya tanpa bersikap&#13;
defensif, meskipun berada dalam lingkungan sosial yang sama. Kondisi tersebut&#13;
menimbulkan kegelisahan mengenai bagaimana seseorang dapat mencapai&#13;
kematangan beragama serta faktor-faktor yang memengaruhi proses tersebut.&#13;
Kegelisahan ini menarik untuk dikaji pada peserta Sekolah Lintas Iman (SLI)&#13;
Angkatan XVI Tahun 2025 karena mereka menunjukkan keterbukaan dalam&#13;
membangun relasi lintas agama, berdialog, serta merespons isu sosial-ekologis,&#13;
khususnya persoalan darurat sampah di Yogyakarta. Sikap tersebut menunjukkan&#13;
bahwa keberagamaan tidak hanya tampak dalam bentuk keyakinan normatif, tetapi&#13;
juga dalam kemampuan individu menerima perbedaan dan mengaktualisasikan&#13;
nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk&#13;
menganalisis kematangan beragama peserta SLI Angkatan XVI serta&#13;
mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Teori yang digunakan adalah&#13;
teori kematangan beragama Gordon W. Allport, yang mencakup enam indikator,&#13;
yaitu berpengetahuan luas dan rendah hati, agama sebagai kekuatan motivasi, moral&#13;
yang konsisten, pandangan hidup yang komprehensif, pandangan hidup yang&#13;
integral, dan sikap heuristik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif&#13;
deskriptif dengan jenis penelitian lapangan. Data diperoleh melalui wawancara&#13;
semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi terhadap tujuh informan yang dipilih&#13;
dengan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan model&#13;
Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan&#13;
kesimpulan, serta diuji dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan&#13;
bahwa sebagian besar peserta SLI Angkatan XVI memiliki kecenderungan&#13;
kematangan beragama yang baik. Hal ini tampak dari sikap terbuka terhadap&#13;
perbedaan, kemampuan merefleksikan ajaran agama, konsistensi moral, serta&#13;
kepedulian terhadap isu sosial dan lingkungan. Namun, masih ditemukan adanya&#13;
ketidakmatangan parsial pada beberapa peserta, terutama dalam aspek adaptasi&#13;
sosial dan konsistensi antara kesadaran keagamaan dengan tindakan nyata.&#13;
Kematangan beragama peserta dipengaruhi oleh faktor internal, seperti pengalaman&#13;
spiritual, refleksi personal, dan pemahaman agama, serta faktor eksternal, seperti&#13;
keluarga, lingkungan pendidikan, komunitas lintas iman, dan pengalaman dialog&#13;
antaragama.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">201.7 Toleransi Beragama, Hubungan Antaragama, Pluralisme Agama</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-06-04</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>