TY - THES N1 - Dr. Dian Nur Anna, S.Ag., M.A. ID - digilib77021 UR - https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77021/ A1 - Muhammad Ihsanul Hafidhin, NIM.: 22105020029 Y1 - 2026/06/04/ N2 - Keberagaman agama tidak selalu secara otomatis melahirkan sikap inklusif dalam kehidupan sosial. Tidak semua individu beragama mampu menerima perbedaan, berdialog secara terbuka, dan mengelola identitas keagamaannya tanpa bersikap defensif, meskipun berada dalam lingkungan sosial yang sama. Kondisi tersebut menimbulkan kegelisahan mengenai bagaimana seseorang dapat mencapai kematangan beragama serta faktor-faktor yang memengaruhi proses tersebut. Kegelisahan ini menarik untuk dikaji pada peserta Sekolah Lintas Iman (SLI) Angkatan XVI Tahun 2025 karena mereka menunjukkan keterbukaan dalam membangun relasi lintas agama, berdialog, serta merespons isu sosial-ekologis, khususnya persoalan darurat sampah di Yogyakarta. Sikap tersebut menunjukkan bahwa keberagamaan tidak hanya tampak dalam bentuk keyakinan normatif, tetapi juga dalam kemampuan individu menerima perbedaan dan mengaktualisasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kematangan beragama peserta SLI Angkatan XVI serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Teori yang digunakan adalah teori kematangan beragama Gordon W. Allport, yang mencakup enam indikator, yaitu berpengetahuan luas dan rendah hati, agama sebagai kekuatan motivasi, moral yang konsisten, pandangan hidup yang komprehensif, pandangan hidup yang integral, dan sikap heuristik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi terhadap tujuh informan yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diuji dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peserta SLI Angkatan XVI memiliki kecenderungan kematangan beragama yang baik. Hal ini tampak dari sikap terbuka terhadap perbedaan, kemampuan merefleksikan ajaran agama, konsistensi moral, serta kepedulian terhadap isu sosial dan lingkungan. Namun, masih ditemukan adanya ketidakmatangan parsial pada beberapa peserta, terutama dalam aspek adaptasi sosial dan konsistensi antara kesadaran keagamaan dengan tindakan nyata. Kematangan beragama peserta dipengaruhi oleh faktor internal, seperti pengalaman spiritual, refleksi personal, dan pemahaman agama, serta faktor eksternal, seperti keluarga, lingkungan pendidikan, komunitas lintas iman, dan pengalaman dialog antaragama. PB - UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA KW - Kematangan Beragama KW - Sekolah Lintas Iman KW - Gordon W. Allport KW - Psikologi Agama KW - Inklusivitas M1 - skripsi TI - KEMATANGAN BERAGAMA PESERTA SEKOLAH LINTAS IMAN ANGKATAN XVI TAHUN 2025 AV - restricted EP - 228 ER -