%0 Thesis %9 Skripsi %A Akmal Thoriq Bil Haq, NIM.: 22105030136 %B FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM %D 2026 %F digilib:77050 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %K Tafsir Sufi, Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), Abah Anom, Miftah al-Sudur %P 109 %T TAFSIR SUFI DALAM TRADISI TAREKAT (STUDI PENAFSIRAN ABAH ANOM TERHADAP AYAT-AYAT AL-QUR’AN DALAM MIFTAH AL-SUDUR) %U https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77050/ %X Penelitian ini mengkaji penafsiran Al-Qur’an dalam Miftāḥ al-Ṣudūr karya Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom), sebuah kitab tasawuf yang menjadi pedoman Tarekat Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN) Suryalaya. Meskipun bukan kitab tafsir dalam pengertian formal, Miftāḥ al-Ṣudūr memuat sejumlah penafsiran ayat Al-Qur’an yang berfungsi sebagai landasan ajaran dan praktik tarekat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tema-tema penafsiran Al-Qur’an dalam Miftāḥ al-Ṣudūr, menganalisis karakteristik penafsirannya, serta menelusuri keterkaitannya dengan tradisi tafsir sufi. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat kualitatif deskriptif-analitis dengan menggunakan penalaran induktif. Data primer bersumber langsung dari teks kitab Miftāḥ al-Şudūr karya Abah Anom. Pengolahan data dilakukan secara sistematis, dimulai dari inventarisasi ayat-ayat Al-Qur'an, klasifikasi ayat berdasarkan topik pembahasan, hingga analisis mendalam guna mengurai karakteristik penafsiran beserta kontekstualisasinya terhadap amalan TQN dan hubungannya dengan literatur TQN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Abah Anom dapat dipetakan ke dalam lima tema utama, yaitu zikir, ma‘rifah, pengelolaan hawa nafsu, sanad spiritual dan bimbingan syekh, serta keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Tema-tema tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an menjadi sumber utama dalam pembentukan kerangka spiritual TQN. Penelitian ini juga menemukan bahwa penafsiran Abah Anom memiliki kesinambungan dengan tradisi tafsir sufi, terutama dalam penekanannya terhadap dimensi spiritual, penyucian jiwa, dan perjalanan menuju Allah Swt. Penafsirannya menunjukkan corak tafsir sufi yang menitikberatkan pada pengungkapan makna batin ayat dan penggunaan simbolisme spiritual. Namun demikian, penafsiran tersebut tidak berkembang ke arah spekulasi metafisik yang kompleks, melainkan diarahkan pada pembinaan rohani dan praktik kehidupan tarekat. Selain itu, terdapat keterkaitan yang kuat antara penafsiran Abah Anom dengan tradisi intelektual TQN, khususnya pemikiran ʿAbd al-Qādir al-Jīlānī yang banyak dirujuk dalam Miftāḥ al-Ṣudūr. Temuan ini menunjukkan bahwa penafsiran Abah Anom merupakan bagian dari kesinambungan tradisi tafsir sufistik yang diwariskan melalui sanad keilmuan dan spiritual. %Z Asep Nahrul Musadad, M.Ag.