<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>PEMAHAMAN HADIS TENTANG LARANGAN BANYAK BICARA TERHADAP FENOMENA YAPPING (STUDI MA’ANIL HADIS)</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 22105050037</mods:namePart><mods:namePart type="family">Reviyan Misbahul Munir</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya fenomena yapping di era digital, yaitu perilaku berbicara atau berkomentar secara berlebihan di media sosial yang sering kali tidak memiliki manfaat dan keluar dari konteks pembicaraan. Fenomena tersebut menunjukkan adanya penurunan etika komunikasi yang bertentangan dengan ajaran Islam mengenai pentingnya menjaga lisan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami hadis tentang larangan banyak bicara menggunakan pendekatan M. Syuhudi Ismail serta menganalisis relevansinya terhadap fenomena yapping. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis. Sumber data primer berasal dari kitab-kitab hadis, seperti Shahih Muslim, Shahih Bukhari, Sunan Abu Dawud, dan Musnad Ahmad, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari buku, jurnal, artikel ilmiah, dan media daring yang relevan dengan tema penelitian.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis tentang “berkata baik atau diam” mengandung ajaran universal mengenai pentingnya menjaga ucapan, mengendalikan lisan, serta bertanggung jawab dalam berkomunikasi. Berdasarkan pendekatan Syuhudi Ismail, hadis tersebut tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga secara kontekstual sesuai perkembangan sosial masyarakat modern. Fenomena yapping memiliki relevansi dengan larangan banyak bicara dalam hadis karena perilaku tersebut cenderung mengandung ucapan yang berlebihan, tidak bermanfaat, dan berpotensi menimbulkan dampak negatif dalam komunikasi sosial. Oleh karena itu, hadis Nabi tentang berkata baik atau diam tetap relevan dijadikan pedoman etika komunikasi di era digital agar masyarakat lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">297.125 Hadis</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-06-04</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>