<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>INTERPRETASI AYAT EKOLOGI DALAM QS. HUD AYAT 61-68 (PERSPEKTIF MA’NA-CUM-MAGHZA)</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 22205032083</mods:namePart><mods:namePart type="family">Navis Daris Salamah</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini mengkaji QS. Hud: 61-68 yang memuat kisah dakwah Nabi Shalih&#13;
dan kaum Tsamud selama ini lebih banyak dipahami dalam kerangka teologis,&#13;
mukjizat, dan ibrah moral, sementara dimensi ekologis yang terkandung di&#13;
dalamnya belum dikaji secara mendalam. Padahal, rangkaian ayat tersebut&#13;
memuat sejumlah lafadz kunci seperti ista‘marakum fīhā, nāqatullāh, wa lā&#13;
tamassūhā bisū’in, dan al-arḍ yang menunjukkan relasi ekologis yang saling&#13;
memengaruhi antara manusia, makhluk hidup, dan lingkungan. Fokus penelitian&#13;
ini adalah mengungkap nilai-nilai ekologis dalam QS. Hūd [11]: 61–68 melalui&#13;
pendekatan Ma‘nā–cum–Maghzā serta merelevansikannya dengan peran manusia&#13;
sebagai khalifah untuk melestarikan lingkungan hidup.&#13;
Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research) dengan&#13;
menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode&#13;
interpretasi Ma‘nā–cum–Maghzā, yang menekankan tiga tahapan analisis, yaitu&#13;
makna historis (al-ma‘nā at-tārīkhī), signifikansi fenomenal historis (al-maghzā&#13;
at-tārīkhī), dan signifikansi fenomenal dinamis kontemporer (al-maghzā almutaḥarrik&#13;
al-mu‘āṣir). Teknik analisis data dilakukan melalui analisis linguistik&#13;
terhadap lafadz-lafadz kunci, analisis intratekstual dan intertekstual dengan ayatayat&#13;
Al-Qur’an lain, hadis dan analisis konteks historis pewahyuan. Landasan&#13;
teori penelitian ini bertumpu pada konsep ekologi, ekoteologi Islam, dan teori&#13;
interpretasi Ma‘nā–cum–Maghzā sebagai perangkat untuk menyingkap pesan&#13;
ekologis Al-Qur’an yang bersifat dinamis, aplikatif, dan humanis.&#13;
Melalui metode interpretasi Ma‘nā–cum–Maghzā ditemukan bahwa QS. Hud: 61-&#13;
68 memiliki keterkaitan yang kuat dengan dakwah Nabi Shalih kepada kaum&#13;
Tsamud. Penjelasan yang dipaparkan merujuk pada tiga aspek utama yang&#13;
menjadi fokus kajian Ma‘nā–cum–Maghzā. Pertama, makna historis yang&#13;
dipaparkan ada empat poin: 1) penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi 2)&#13;
adanya unta betina sebagai mukjizat Nabi Shalih 3) pembunuhan unta sebagai&#13;
simbol kesombongan 4) azab sebagai konsekuensi dari pembangkangan. Kedua,&#13;
signifikansi fenomenal historis yang diurai menjadi empat poin: 1) dakwah Nabi&#13;
Shalih sebagai ajakan tauhid 2) amanah manusia sebagai pemakmur bumi 3)&#13;
mukjizat unta betina sebagai ujian 4) azab yang turun karena membunuh unta&#13;
betina. Ketiga, signifikansi fenomenal dinamis kontemporer yang dijelaskan&#13;
dalam tiga poin: 1) manusia sebagai khalifah di bumi 2) krisis ekologis 3) jejak&#13;
arkeologi dan peradaban kaum Tsamud.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-05-21</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>