<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>KONSEP INZAL DALAM PERISTIWA NUZUL AL-QUR’AN MENURUT TAFSIR MAFATIḤ AL-GAYB KARYA FAKHR AL-DIN AL-RAZI</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 19105030082</mods:namePart><mods:namePart type="family">Muhammad Haidar Alwi</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini membahas konsep inzāl dalam peristiwa nuzūl al-Qur’ān menurut tafsir Mafātīḥ al-Gayb karya Fakhr al-Dīn al-Rāzī. Persoalan utama penelitian ini bertolak dari adanya perbedaan antara redaksi ayat-ayat al-Qur’ān yang menyatakan bahwa al-Qur’ān diturunkan pada bulan Ramaḍān, Lailat al-Qadr, atau laylatin mubārakah, dengan fakta sejarah bahwa wahyu al-Qur’ān tidak turun kepada Nabi Muhammad dalam satu waktu, melainkan secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah penafsiran Fakhr al-Dīn al-Rāzī terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan konsep inzāl, serta menguraikan dimensi penafsirannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis. Sumber data primer penelitian ini adalah tafsir Mafātīḥ al-Gayb karya Fakhr al-Dīn al-Rāzī, khususnya penafsiran atas Q.S. al-Baqarah [2]: 185, Q.S. al-Dukhān [44]: 3, dan Q.S. al-Qadr [97]: 1, sedangkan data sekundernya berasal dari literatur klasik dan kontemporer yang relevan dengan tema inzāl dan nuzūl al-Qur’ān.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Rāzī tidak membatasi konsep inzāl pada satu kemungkinan makna saja, melainkan mengemukakan tiga kemungkinan penafsiran. Pertama, al-Qur’ān diturunkan secara menyeluruh dari al-Lauḥ al-Maḥfūẓ ke langit dunia, lalu disampaikan kepada Nabi Muhammad secara bertahap. Kedua, pada setiap Lailat al-Qadr diturunkan bagian al-Qur’ān yang dibutuhkan untuk satu tahun ke langit dunia, kemudian disampaikan kepada Nabi secara bertahap. Ketiga, inzāl dipahami sebagai penanda dimulainya wahyu, bukan sebagai uraian rinci tentang tahapan turunnya al-Qur’ān. Dalam memaparkan tiga kemungkinan tersebut, al-Rāzī membangun penafsirannya melalui empat dimensi penafsiran, yaitu dimensi bi al-ma’ṡūr, kebahasaan, rasional-argumentatif, dan teologis. Dimensi bi al-ma’ṡūr berfungsi sebagai pijakan awal untuk membuka makna ayat melalui riwayat. Dimensi kebahasaan menjadi dasar untuk mengarahkan makna inzāl melalui analisis lafaz. Dimensi rasional-argumentatif dipakai untuk menguji, menimbang, dan memperkuat kemungkinan makna yang ia kemukakan. Adapun dimensi teologis digunakan untuk menempatkan inzāl dalam kerangka hikmah, kehendak, dan tindakan Allah.&#13;
Kata Kunci: Inzāl, Nuzūl al-Qur’ān, Mafātīḥ al-Gayb, Fakhr al-Dīn al-Rāzī</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">Ilmu Alqur’an dan Tafsir </mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-05-20</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>