TY - UNPB N1 - Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag. ID - digilib77095 UR - https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77095/ A1 - M Khairul Hafiz Akbar, NIM.: 23205032055 Y1 - 2026/03/05/ N2 - Penelitian tafsir Al-Qur?an terhadap surat Yusuf ayat 22 dan 54-56 bergerak pada koridor kriteria seorang pemimpin yang ideal untuk dipilih, sehingga tidak menjangkau secara mendalam pembahasan praktik nepotisme, politisasi jabatan dan kerapuhan integritas birokrasi. Kekosongan tersebut menjadi fokus utama penelitian ini dengan membawa pemaknaan Al-Qur?an surat Yusuf: 22 dan 54-56 dalam diskursus meritokrasi sebagai mekanisme pemilihan dan pengangkatan pemimpin. Fenomena yang terjadi dalam pratik pemilihan dan pengangkatan pemimpin banyak dicederai perilaku amoral yang menjadi cikal bakal praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Urgensi penelitian terlihat sebagai respon terhadap degradasi moral tersebut, bahwa pemaknaan Al-Qur?an Surat Yusuf: 22 dan 54-56 tidak sebatas kriteria pemimpin ideal melainkan sebagai tatanan etika dan moral. Melalui pendekatan Tafs?r Maq??idi penelitian deskriptif analitik ini diawali pemaparan meritokrasi dalam perspektif Islam sebagai kerangka bangun konteks awal penelitian. Pembahasan dilanjutkan untuk mengupas secara komperhensif prinsip-prinsip meritoktasi dalam Al-Qur?an surat Yusuf: 22 dan 54-56. Puncak penelitian ini menguraikan kontekstualisasi prinsip-prinsip meritoktasi terhadap fenomena faktual di Indonesia dalam perspektif tafs?r maq??idi. Analisis terhadap Al-Qur?an surat Yusuf: 22 dan 54-56, dan sumber sekunder- tafs?r maq??idi, kitab-kitab tafsir, dan literatur terkait menunjukkan bahwa legitimasi kepemimpinan Nabi Yusuf dibangun di atas fondasi ?ukm (kebijaksanaan), ?ilm (pengetahuan), dan integritas moral yang diartikulasikan dalam konsep ?af??un ?al?m. Pengangkatan Yusuf sebagai pengelola perbendaharaan negara tidak berakar pada keinginan untuk berkuasa, melainkan pada kapasitas profesional dan kredibilitas moralnya yang telah terbukti. Al-Qur?an surat Yusuf: 22 dan 54-56 mewakili model kepemimpinan yang didasarkan pada kompetensi dan kepercayaan. Pendekatan tafsir maq??idi memandang ayat-ayat ini bukan hanya sebagai narasi sejarah, tetapi sebagai manifestasi nilai-nilai universal yang berorientasi pada pencapaian maq??id al-syar??ah, khususnya keadilan, kesejahteraan umum, dan perlindungan hak-hak masyarakat. Dengan membedakan antara dimensi teknis kontekstual kebijakan dan tujuan etika universal, penelitian ini menekankan relevansi prinsip ?af??un ?al?m untuk diwujudkan dalam sistem perekrutan dan promosi yang menekankan profesionalisme dan integritas di era modern yang sarat memprioritaskan orang inkompeten dengan dalih kerabat, keluarga, bahkan balas budi politik khususnya di Indonesia. Secara komprehensif melalui narasi cerita Nabi Yusuf, Al-Qur'an menyajikan paradigma meritokrasi yang lengkap dengan menggabungkan kompetensi, moralitas, dan fokus pada kesejahteraan umum sebagai landasan normatif untuk memperkuat kepemimpinan dan pemerintahan yang adil, profesional, dan berkelanjutan. Dengan demikian, meritokrasi dalam Surat Yusuf mencerminkan paradigma kepemimpinan Qur?ani yang menggabungkan kompetensi dan integritas moral, serta relevan bagi pemerintahan yang adil dan dapat dipercaya. PB - UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA KW - Meritokrasi KW - Tafsir Maqashidi KW - Kontekstualisasi KW - Al-Qur?an KW - Kepemimpinan M1 - masters TI - KONTEKSTUALISASI AYAT-AYAT MERITOKRASI DALAM AL-QUR?AN SURAT YUSUF (STUDI ANALISIS TAFSIR MAQASHIDI) AV - restricted EP - 110 ER -