@mastersthesis{digilib77096, month = {April}, title = {ARGUMEN AL-JUWAYNI ATAS PENOLAKANNYA TERHADAP KETUHANAN ISA AL-MASIH}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 24205011005 Fiqi Restu Subekti}, year = {2026}, note = {Prof. Dr. H. Zuhri, S.Ag., M.Ag.}, keywords = {Al-Juwayni, Teologi Islam, Isa Al-Masih, Islam}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77096/}, abstract = {Al-Juwayni lebih dikenal sebagai seorang ulama dalam bidang hukum Islam (ushul fiqh dan fiqh), sehingga kajian pemikirannya tentang teologi Islam tidak sebanyak kajian tentang hukum Islamnya. Meskipun ada kajian tentang pemikiran teologinya, namun hanya di dalam internal Islam saja, belum sampai merambah ke ranah diskusi lintas agama. Padahal kajian teologi dipandang penting sebagai kunci untuk memahami perbedaan mendasar antaragama, terutama dalam Islam dan Kristen. Tesis ini bertujuan untuk mengisi kekosongan kajian mengenai pemikiran Juwayn{\=i} dalam diskusi lintas agama dengan menggali pemikirannya yang tertuang dalam argumen-argumen penolakannya terhadap Isa al-Masih dan doktrin kekristenan lainnya. Guna mencapai tujuan ini, penelitian kualitatif dilakukan pada karya utama al- Juwayn{\=i} dalam bidang teologi yaitu al-Sy{\=a}mil f{\=i} U{\d s}{\=u}l al-D{\=i}n dan al-Irsy{\=a}d il{\=a} Qaw{\=a}{\d t}i? al-Adillah f{\=i} U{\d s}{\=u}l al-I?tiq{\=a}d serta didukung literatur-literatur lain yang relevan dengan topik kajian. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa al-Juwayn{\=i} menggunakan argumen teologis berbasis Asy?ariyyah dan argumen filosofis dalam kerangka Aristotelian yang validitasnya telah dibuktikan. Alasan mengapa al- Juwayn{\=i} menganggap teologi Kristen keliru karena adanya perbedaan mendasar pada kerangka epistemologis dan metafisis antara paradigma al-Juwayn{\=i} yang berbasis Aristotelisme dengan teologi Kristen yang berbasis Neoplatonisme. Adapun kontribusi al-Juwayn{\=i} melalui argumennya dalam tradisi Asy?ariyyah memperlihatkan sebagai penghubung antara generasi awal dengan genarasi kemudian sehingga memberikan pondasi yang mapan untuk generasi Asy?ariyyah selanjutnya. Kemudian argumentasinya menunjukkan etika dialogis yang kritis dengan menggunakan pendekatan yang non-konfrontatif melalui pembongkaran rasional atas inkonsistensi internal doktrin. Kemudian sikap objektifnya yang ditunjukkan dalam menghadapi lawannya. Kemudian gaya argumennya yang bersifat dilematis untuk mengungkap kontradiksi internal, bahkan juga menyingkap batas-batasnya ketika premis atau kategori yang dipakai tidak disepakati bersama. Kemudian interalisasi unsur teologinya ke ranah hukum karena kepakarannya dalam kedua bidang tersebut.} }