<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>SUBJEKTIVASI FASILITATOR GOVERNMENTALITY&#13;
DALAM PRAKTIK PROGRAM KELUARGA HARAPAN&#13;
DI KABUPATEN BANGKA BARAT</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 24207021003</mods:namePart><mods:namePart type="family">Uci Ningsih</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Kemiskinan menjadi salah satu&#13;
permasalahan sosial yang kompleks dan terus menjadi&#13;
perhatian utama pemerintah. Berbagai kebijakan dan program&#13;
sosial telah diluncurkan oleh pemerintah untuk menanggulangi&#13;
kemiskinan yang bersifat struktural dan multidimensional.&#13;
Program Keluarga Harapan (PKH) hadir sebagai bantuan&#13;
sosial bersyarat yang tidak hanya memberi dukungan ekonomi,&#13;
tetapi juga mendorong perubahan perilaku melalui&#13;
pendampingan fasilitator sebagai penghubung kebijakan&#13;
negara dan realitas sosial masyarakat miskin. Dalam&#13;
praktiknya, fasilitator tidak hanya menjalankan fungsi&#13;
administratif, tetapi juga membina kesadaran, kedisiplinan, dan&#13;
tanggung jawab sosial penerima manfaat melalui mekanisme&#13;
pembinaan, pengawasan, serta pemenuhan komitmen&#13;
pendidikan dan kesehatan. Jenis peneliatin menggunkan&#13;
pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis. Metode&#13;
dalam pengambilan data menggunakan sumber data primer dan&#13;
skunder yakni wawancara, dokumentasi, observasi. Penelitian&#13;
ini menggunakan teori governmentality yang dikemukakan&#13;
oleh Michel Foucault untuk memahami bagaimana kekuasaan&#13;
modern bekerja secara halus melalui mekanisme pembinaan,&#13;
pengaturan diri, dan normalisasi sosial. Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa fasilitator PKH berada dalam posisi&#13;
ambivalensi di satu sisi sebagai pendamping sosial yang&#13;
membina dan memberdayakan, di sisi lain sebagai pengelola&#13;
kepatuhan yang memastikan kewajiban administratif KPM&#13;
terpenuhi. Praktik pendampingan seperti Family Development&#13;
Session (FDS), monitoring komitmen pendidikan dan&#13;
kesehatan, serta pencatatan kepatuhan menjadi instrumen&#13;
pembentukan subjek yang patuh dan mandiri. Relasi antara&#13;
fasilitator dan KPM memperlihatkan adanya negosiasi&#13;
kekuasaan antara tuntutan kebijakan yang bersifat teknokratis&#13;
dengan realitas sosial masyarakat di lapangan. Penelitian ini&#13;
menyimpulkan bahwa Program Keluarga Harapan (PKH) tidak&#13;
iii&#13;
hanya berfungsi sebagai instrumen bantuan sosial bersyarat,&#13;
tetapi juga sebagai mekanisme governmentality yang&#13;
membentuk subjektivitas orang miskin melalui teknik&#13;
pengaturan diri, pembinaan moral, dan rasionalitas kebijakan.&#13;
Dengan demikian, fasilitator berperan sebagai agen kebijakan&#13;
sekaligus aktor sosial yang menjembatani kepentingan negara&#13;
dan kebutuhan masyarakat dalam proses pengentasan&#13;
kemiskinan.&#13;
Kata Kunci: Governmentality, Fasilitator PKH, Subjektivasi,&#13;
Kemiskinan</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">301 Sosiologi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-04-30</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>