<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>STELLAR COLLAPSE DALAM TAFSIR INDONESIA  (STUDI ATAS TAFSIR ILMI KEMENTERIAN AGAMA RI DAN TAFSIR AL-MISBAH KARYA M. QURAISH SHIHAB)</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 24205031088</mods:namePart><mods:namePart type="family">Muhammad Afdal</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini mengkaji konsep stellar collapse dalam penafsiran ayat-ayat kosmologis Al-Qur'an dengan fokus pada perbandingan antara Tafsir Ilmi Kementerian Agama RI dan Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab. Penelitian ini berangkat dari berkembangnya kajian integrasi sains dan tafsir Al-Qur’an, khususnya terkait fenomena keruntuhan bintang, sementara penafsiran terhadap ayat-ayat tentang kehancuran dan perubahan struktur langit masih menunjukkan perbedaan pendekatan di kalangan mufassir Indonesia. Penelitian ini difokuskan untuk menganalisis bagaimana kedua tafsir tersebut memahami ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena stellar collapse, metode penafsiran yang digunakan, serta relevansinya terhadap wacana hubungan antara Al-Qur’an dan sains modern di Indonesia.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis library research dengan pendekatan hermeneutika fusion of horizons dari Hans-Georg Gadamer untuk menjelaskan bagaimana Tafsir Ilmi Kementerian Agama RI dan Tafsir Al-Misbah memahami ayat-ayat kosmologi dengan membawa cakrawala ilmu pengetahuan modern ke dalam dialog dengan teks Al-Qur’an.&#13;
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena stellar collapse dapat dipahami sebagai proses keruntuhan bintang akibat habisnya bahan bakar nuklir. Penelitian ini menemukan bahwa meskipun Al-Qur’an tidak menyebutkan stellar collapse secara eksplisit, terdapat sejumlah ayat yang memberikan isyarat terhadap proses evolusi dan kehancuran bintang, khususnya dalam Tafsir Ilmi Kementerian Agama RI dan Tafsir Al-Misbah. Tafsir Ilmi Kemenag lebih menekankan hubungan ayat-ayat kauniyah dengan penemuan sains modern secara deskriptif-edukatif, sedangkan Quraish Shihab menafsirkan fenomena tersebut secara filosofis dan teologis. Melalui analisis hermeneutika Hans-Georg Gadamer, penelitian ini juga menunjukkan adanya fusion of horizons antara cakrawala teks Al-Qur’an, konteks mufasir, dan perkembangan ilmu astrofisika modern, sehingga menghasilkan pemahaman yang integratif antara wahyu dan sains.&#13;
Berdasarkan analisis teori fusion of horizons Hans-Georg Gadamer, penelitian ini menyimpulkan bahwa penafsiran fenomena stellar collapse dalam Tafsir Ilmi Kementerian Agama RI dan Tafsir Al-Misbah menunjukkan adanya hubungan antara teks Al-Qur’an dan perkembangan sains modern. Tafsir Ilmi Kemenag lebih menekankan penjelasan ilmiah, sedangkan Tafsir Al-Misbah lebih menonjolkan makna teologis dan filosofis. Dari kedua tafsir tersebut dapat dipahami bahwa fenomena stellar collapse bukan hanya peristiwa ilmiah, tetapi juga tanda kebesaran Allah.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-06-04</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>