@mastersthesis{digilib77117, month = {June}, title = {PENAFSIRAN AYAT QISAS (QS. 2:178-179) DALAM TAFSIR AT-TANWIR MUHAMMADIYAH}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 24205031089 Hafiz}, year = {2026}, note = {Prof. Dr. Ustadi Hamzah, M.Ag.}, keywords = {Qisas, At-Tanwir, Fusions of Horizons}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77117/}, abstract = {Penelitian ini mengkaji penafsiran ayat qisas dalam QS. Al-Baqarah ayat 178- 179 pada dengan fokus pada epistemologi penafsiran, transformasi makna qisas, serta relevansinya dan kehidupan masyarakat modern. Permasalahan penelitian berangkat dari adanya pemahaman qisas yang sering dimaknai secara tekstual dan literal sebagai hukuman balasan semata, sehingga kerap dianggap bertentangan dengan nilai kemanusiaan, hak asasi manusia, dan perkembangan sistem hukum modern. Selain itu terdapat perubahan sosial dan perkembangan pemikiran hukum menuntut adanya penafsiran yang lebih kontekstual terhadap ayat-ayat hukum agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat tanpa menghilangkan substansi ajaran Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis library research yang berobjek material dari ayat qisas QS. 2: 178-179 dan objek formal tafsir At-Tanwir Muhammadiyah yang bertujuan untuk menelaah dan menggali makna qisas QS. 2: 178-179. Dalam menafsirkan ayat qisas dan menggali makna baru penelitian ini menggunakan beberapa pendekatan, seperti pendekatan Jasser Auda untuk memahami maqashid syari?ah dalam hukum qisas, pendekatan Angelika Neuwirth untuk melihat epistemology (sumber atau landasan wahyu), pendekatan Abdullah Saeed untuk melihat pemahaman ayat berdasarkan konteks historis (mikro dan makro) serta relevansinya dengan konteks sosial budaya saat ini, dan pendekatan Hans-Georg Gadamer teori fusion of horizons untuk menarik makna baru dari pemahaman penafsir pra-Islam-modern, terkhususnya dalam tafsir At-Tanwir Muhammadiyah. Hasil penelitian menunjukkan dalam masalah pertama, bahwa qisas pada QS. Al-Baqarah ayat 178-179 memiliki landasan epistemologis dari al-Qur?an dan hadis bertujuan menegakkan keadilan, menjaga jiwa, dan menciptakan kemaslahatan sosial. Masalah kedua menunjukkan bahwa qisas mengalami transformasi dari tradisi balas dendam jahiliyah menjadi sistem hukum Islam yang adil, humanis, serta membuka ruang pemaafan dan rekonsiliasi sosial. Masalah ketiga menyimpulkan bahwa melalui teori fusion of horizons Hans-Georg Gadamer, qisas dimaknai secara kontekstual sebagai keadilan restoratif yang relevan untuk menjaga perdamaian dan keharmonisan masyarakat modern. Penelitian ini juga menemukan adanya transformasi makna qisas dari budaya kesukuan antar kabilah masyarakat Arab pra-Islam menuju konsep hukum yang lebih humanis, adil, dan berorientasi pada kemaslahatan sosial. Dalam konteks modern, qisas dipahami memiliki relevansi dengan prinsip keadilan restoratif, penyelesaian konflik secara damai, dan perlindungan hak hidup manusia. Dalam pendekatan fusion of horizons, penelitian ini menyimpulkan bahwa pemaknaan qisas bersifat dinamis dan kontekstual sehingga ayat-ayat hukum dalam al-Qur?an tetap dapat dipahami secara relevan sesuai perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai syariat Islam. Oleh karena itu, Tafsir At-Tanwir menghadirkan pemahaman qisas yang moderat, kontekstual, dan berorientasi pada keadilan substantif serta kemaslahatan umat manusia.} }