TY - THES N1 - Dr. Muhammad Akmaluddin, M.S.I. ID - digilib77119 UR - https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77119/ A1 - M. Rizqi Aulianim, NIM.: 24205031094 Y1 - 2026/06/02/ N2 - Krisis ekologi yang melanda Indonesia mulai dari banjir dan longsor di wilayah konsesi Sumatera, hingga deforestasi masif ratusan ribu hektar di Papua, mengindikasikan adanya krisis spiritual dan kegagalan paradigma antroposentris dalam memandang alam. Alam seringkali direduksi sebagai komoditas ekonomi semata tanpa mempertimbangkan jaring interdependensi ekosistem dan nilai ketuhanannya. Menjawab problematika tersebut, penelitian ini menawarkan pendekatan ekosufistik melalui kajian atas tafsir klasik Lub?b at-Ta?w?l f? Ma??n? at-Tanz?l karya Al-Kh?zin. Penelitian ini bertujuan untuk melihat penafsiran ayat-ayat ekologi dalam tafsir Al-Kh?zin, menguraikan dimensi sufistik yang melandasi penafsiran tersebut dalam pengelolaan alam, dan relevansi relasi Tuhan, manusia, dan alam dalam kerangka ekosufistik untuk merespons kerusakan lingkungan di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan basis kepustakaan (library research) dan metode deskriptif-analitis. Pendekatan yang digunakan adalah tafsir mau???? (tematik) dengan mengkodifikasi lima term utama: khal?fah f? al-Ar?, al-M??, al-Ar?, al-?Adl, dan at-Taw?zun. Analisis data dibedah menggunakan dua kerangka teori komplementer: Sosiologi Pengetahuan Karl Mannheim untuk melihat pengaruh konteks sosio-historis terhadap corak penafsiran Al-Kh?zin, serta teori Deep Ecology Fritjof Capra untuk menganalisis konstruksi keseimbangan ekologis yang menolak hierarki eksploitatif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penafsiran ayat-ayat ekologi Al-Kh?zin menegaskan bahwa manusia adalah wakil Tuhan (khal?fah f? al-Ar?) yang diberi mandat moral untuk merawat hamparan bumi (al-Ar?) dan memelihara air (al-M??) sebagai sumber esensial kehidupan secara proporsional. Pengelolaan ini harus dilandasi oleh prinsip keadilan (al-?Adl) tanpa intervensi destruktif, serta prinsip keseimbangan (at-Taw?zun) yang menjauhi sifat boros maupun pelit. Selanjutnya, dimensi sufistik dalam penafsiran Al-Kh?zin memadukan tasawuf falsafi dan tasawuf akhl?q?. Melalui tasawuf falsafi, alam dipandang sebagai manifestasi dari Wa?dah al-Wuj?d dan jalan mencapai derajat Ins?n Kam?l. Sementara melalui tasawuf akhl?q?, manusia dituntut berproses melalui takhalli (mengosongkan diri dari tabiat merusak), tahalli (mengisi pemikiran dengan etika ekologis berlandaskan ilmu), dan tajalli (mencapai ma?abbatun lill?h atau cinta Tuhan melalui ciptaan-Nya). Meski corak sufistiknya cenderung tipis akibat represi kondisi keilmuan pasca-jatuhnya Bagdad, Al-Kh?zin tetap visioner menyisipkan nilai-nilai tersebut. Dalam konteks keindonesiaan, kerangka ekosufistik Al-Kh?zin memberikan kritik tajam terhadap kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang sarat konflik agraria, seperti kontradiksi implementasi UU No. 6 Tahun 2023. Bencana ekologis di Indonesia bukanlah sekadar anomali cuaca, melainkan dampak runtuhnya al-Qoyyim al-Akhl?qiyyah (nilai-nilai moral). Pada akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa penanggulangan kerusakan lingkungan di Indonesia membutuhkan pergeseran paradigma secara fundamental; dari sekadar pengelolaan sumber daya secara materialistis, menuju tata kelola alam yang disinari oleh kesadaran mur?qabah dan akhlak spiritual (takhalluq bi akhl?qill?h) demi terwujudnya keberlanjutan ekosistem di Indonesia. PB - UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA KW - Ekosufistik KW - Tafsir Al-Khazin KW - Krisis Ekologi KW - Tasawuf Akhlaqi KW - Tasawuf Falsafi M1 - masters TI - DIMENSI EKOSUFISTIK DALAM TAFSIR AL-KHAZIN (STUDI ATAS KITAB TAFSIR LUBAB AT-TA?WIL FI MA?ANI AT-TANZIL) AV - restricted EP - 166 ER -