<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>KISAH NABI YUNUS DALAM TAFSIR IBNU KATSIR DAN AL-AZHAR: APLIKASI INTERTEKSTUALITAS JULIA KRISTEVA</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 24205031116</mods:namePart><mods:namePart type="family">Agnes Febiola Maneza</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang murni dan petunjuk hidup sepanjang&#13;
masa, yang menyampaikan pesan melalui berbagai cara, salah satunya kisah para&#13;
nabi yang mengandung nilai pelajaran (ibrah) sebagaimana ditegaskan dalam QS.&#13;
Yusuf: 111. Salah satu kisah yang memiliki kekhasan dan kedalaman makna adalah&#13;
kisah Nabi Yunus a.s. yang tercantum dalam QS. Al-Anbiya’ (87-88), QS. Ash-&#13;
Shaffat (139-148), dan QS. Al-Qalam (48-50). Kisah ini menampilkan sisi&#13;
kemanusiaan, rasa kecewa, serta bukti luasnya rahmat Allah saat menyelamatkan&#13;
beliau dari perut ikan, hingga akhirnya seratus ribu kaumnya beriman. Keringkasan&#13;
teks Al-Qur’an memunculkan ragam penafsiran sesuai corak dan metode ulama.&#13;
Kajian ini membandingkan dua rujukan utama, yaitu Tafsir Ibnu Katsir yang&#13;
mewakili corak klasik berbasis riwayat, dan Tafsir Al-Azhar karya Hamka yang&#13;
mewakili corak kontemporer dengan pendekatan sosial-kultural.&#13;
Penelitian ini menggunakan teori Intertekstualitas Julia Kristeva, yang&#13;
memandang bahwa tidak ada teks yang berdiri sendiri, melainkan selalu terbentuk&#13;
dari kutipan, dialog, transformasi, dan pengembangan terhadap teks-teks&#13;
sebelumnya. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif&#13;
dengan metode deskriptif analitis, di mana data berupa teks penafsiran&#13;
dikumpulkan, dikaji, dan diuraikan maknanya. Analisis dilakukan secara mendalam&#13;
menggunakan sembilan prinsip intertekstualitas, yaitu: transformasi, modifikasi,&#13;
ekspansi, haplologi, denitrifikasi, paralel, konversi, eksistensi, dan defamilirasi,&#13;
untuk melihat pola hubungan serta persamaan dan perbedaan makna antara kedua&#13;
tafsir.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan keterkaitan yang sangat&#13;
erat dan berkesinambungan; Hamka menjadikan penjelasan Ibnu Katsir sebagai&#13;
landasan utama, sehingga pola eksistensi dan paralel sangat menonjol. Hal ini&#13;
membuktikan bahwa inti makna, dalil, dan pesan pokok keduanya sama persis dan&#13;
tidak bertentangan. Perbedaan hanya terletak pada cara penyampaian: Ibnu Katsir&#13;
menyajikan penjelasan rinci dan lengkap berbasis riwayat, sedangkan Hamka&#13;
melakukan pola haplologi (meringkas uraian panjang), transformasi (mengubah&#13;
susunan bahasa menjadi lebih sederhana), serta ekspansi dan defamilirasi&#13;
(menambah makna sosial, psikologis, dan nilai moral yang relevan dengan&#13;
kehidupan masa kini). Secara ideologis, kedua tafsir sepakat bahwa kekhilafan&#13;
adalah hal manusiawi, namun tobat yang tulus akan mengubah kegagalan menjadi&#13;
kemuliaan, rahmat Allah jauh lebih luas dari dosa, dan tugas kebaikan wajib&#13;
dilanjutkan. Penelitian ini membuktikan bahwa ilmu tafsir merupakan warisan&#13;
keilmuan yang terjaga keasliannya, dikemas ulang agar tetap relevan dan mudah&#13;
dipahami oleh setiap generasi tanpa mengubah kebenaran asal wahyu Allah.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-06-03</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>