%A NIM.: 24205031119 Rizki Ramadhan Sitepu %O Dr. (phil) Fadhli Lukman, S.Th.,I. M.Hum. %T REINTERPRETASI TEOLOGIS KATA NASARA DALAM AL-QUR’AN: ANALISIS HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR %X Penelitian ini mengkaji reinterpretasi teologis kata Naṣārā dalam Al-Qur’an melalui pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur. Latar belakang penelitian ini berangkat dari problem pemaknaan istilah Naṣārā yang selama ini cenderung dipahami secara doktrinal dan historis semata, sehingga berpotensi melahirkan pembacaan eksklusif serta polemik antaragama. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi makna literal (sense) kata Naṣārā dalam berbagai konteks ayat al-Qur’an, dan menganalisis transformasi makna tersebut menjadi referensi universal melalui dialektika makna dan referensi dalam hermeneutika Ricoeur. Penelitian ini merupakan kajian kualitatif berbasis studi pustaka (library research) dengan menggunakan pendekatan hermeneutika Ricoeur yang bergerak melalui tiga tahap utama: eksplanasi yaitu, proses analisis objektif terhadap struktur teks untuk membuka kemungkinan makna yang paling dalam. Distansiasi yaitu proses menjarakkan teks dari pengarang dan pembaca guna untuk mendapatkan penafsiran baru. Epoché yaitu menangguhkan referensi literal historis suatu teks guna membuka kemungkinan makna baru yang lebih dalam. dan apropriasi yaitu, pemahaman diri (self understanding dalam hal ini interpretasi tidak berhenti pada makna objektif, tetapi bergerak menuju transformasi eksistensial dimana teks menjadi medium refleksi diri yang kritis. Data primer berupa ayat-ayat al-Qur’an yang memuat istilah Naṣārā, sedangkan data sekunder mencakup kitab tafsir klasik dan literatur hermeneutika. Analisis dilakukan secara semantik-linguistik dan kontekstual-historis untuk memperoleh makna literal, yang selanjutnya ditransformasikan melalui proses distansiasi dan penangguhan referensi historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata Naṣārā dalam al-Qur’an memiliki makna yang polisemi dan kontekstual, mencakup dimensi positif, negatif, dan netral. Melalui proses hermeneutik makna historis tersebut tidak berhenti pada identifikasi komunitas tertentu, tetapi bertransformasi menjadi simbol universal yang merepresentasikan pola penyimpangan teologis, khususnya dalam bentuk pengkultusan otoritas dan distorsi tauhid. Pada tahap apropriasi, reinterpretasi ini menghasilkan pemahaman etis bahwa kritik al-Qur’an terhadap Naṣārā tidak semata ditujukan kepada kelompok eksternal, melainkan berfungsi sebagai kritik diri (selfcriticism) bagi umat beragama secara umum. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa hermeneutika Ricoeur mampu menjembatani makna tekstual al-Qur’an dengan relevansi etis kontemporer, sekaligus menggeser paradigma pembacaan dari eksklusivisme identitas menuju universalitas nilai. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan tafsir tematik berbasis hermeneutika serta menawarkan pendekatan reinterpretatif yang lebih reflektif dan dialogis dalam memahami ayat-ayat polemik antar agama. %K Reinterpretasi Teologis, Nasara, Hermeneutika, Paul Ricoeur %D 2026 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %L digilib77128