@mastersthesis{digilib77129, month = {June}, title = {IDEAL MORAL KEPEMIMPINAN DALAM TAFSIR FI ZHILALIL QUR?AN DAN AL-MISHBAH}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 24205031128 Surya Rofi Kusuma}, year = {2026}, note = {Prof. Dr. Muhammad, M.Ag.}, keywords = {Ideal Moral Kepemimpinan, Tafsir Fi Zhilalil Qur'an, Tafsir Al-Mishbah, Hermeneutika Gadamer, Kepemimpinan Kontemporer}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77129/}, abstract = {Maraknya penyalahgunaan jabatan, korupsi, dan lemahnya integritas pemimpin publik mencerminkan krisis moral kepemimpinan yang masih menjadi persoalan serius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan nyata antara idealitas moral yang seharusnya melandasi kepemimpinan dan realitas pelaksanaannya di lapangan. Kajian kepemimpinan dalam tafsir Al-Qur'an selama ini lebih banyak berfokus pada perumusan nilai normatif secara tematik, tanpa menelaah secara mendalam dinamika pembentukan makna di balik proses penafsiran serta pengaruh konteks sosial-historis mufasir terhadap konstruksi ideal moral yang dihasilkan. Bertolak dari persoalan tersebut, tujuan kajian ini adalah mendeskripsikan konstruksi ideal moral kepemimpinan dalam Tafsir F{\=i} {\d Z}hil{\=a}lil Qur'{\=a}n karya Sayyid Qutb dan Tafsir Al-Mishb{\=a}h karya M. Quraish Shihab, menemukan persamaan dan perbedaan pandangan kedua mufasir dengan memperhatikan corak penafsiran serta konteks sosial-intelektual yang melatarbelakanginya, sekaligus menunjukkan relevansinya terhadap kepemimpinan kontemporer. Kerangka teori yang digunakan adalah hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer, meliputi prasangka (Vorurteil), pengaruh sejarah (Wirkungsgeschichte), peleburan horizon (Horizontverschmelzung) dan aplikasi/ relevansi. Adapun metode yang diterapkan adalah penelitian kepustakaan kualitatif bersifat deskriptif-analitis dan komparatif. Penggalian data dilakukan melalui studi dokumentasi terhadap penafsiran empat ayat kepemimpinan: Q.S. An-Nis{\=a}' [4]: 58- 59, Q.S. {\d S}{\=a}d [38]: 26, dan Q.S. Asy-Sy{\=u}r{\=a} [42]: 38. Temuan menunjukkan bahwa kedua mufasir membangun konstruksi ideal moral kepemimpinan di atas fondasi yang sama amanah, keadilan, integritas, dan musyawarah namun dengan penekanan yang berbeda: Sayyid Qutb menempatkan moralitas sebagai tolok ukur legitimasi dan pelaksanaan kekuasaan, sedangkan M. Quraish Shihab menempatkannya sebagai landasan etis dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis. Perbedaan tersebut lahir dari perbedaan horizon pemahaman dan konteks sosialhistoris masing-masing mufasir. Nilai-nilai kepemimpinan yang ditemukan terbukti relevan dalam menjawab persoalan kepemimpinan kontemporer.} }