<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>IDEAL MORAL KEPEMIMPINAN DALAM TAFSIR FI ZHILALIL QUR’AN DAN AL-MISHBAH</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 24205031128</mods:namePart><mods:namePart type="family">Surya Rofi Kusuma</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Maraknya penyalahgunaan jabatan, korupsi, dan lemahnya integritas pemimpin&#13;
publik mencerminkan krisis moral kepemimpinan yang masih menjadi persoalan&#13;
serius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kondisi ini menunjukkan adanya&#13;
kesenjangan nyata antara idealitas moral yang seharusnya melandasi&#13;
kepemimpinan dan realitas pelaksanaannya di lapangan. Kajian kepemimpinan&#13;
dalam tafsir Al-Qur'an selama ini lebih banyak berfokus pada perumusan nilai&#13;
normatif secara tematik, tanpa menelaah secara mendalam dinamika pembentukan&#13;
makna di balik proses penafsiran serta pengaruh konteks sosial-historis mufasir&#13;
terhadap konstruksi ideal moral yang dihasilkan. Bertolak dari persoalan tersebut,&#13;
tujuan kajian ini adalah mendeskripsikan konstruksi ideal moral kepemimpinan&#13;
dalam Tafsir Fī Ẓhilālil Qur'ān karya Sayyid Qutb dan Tafsir Al-Mishbāh karya M.&#13;
Quraish Shihab, menemukan persamaan dan perbedaan pandangan kedua mufasir&#13;
dengan memperhatikan corak penafsiran serta konteks sosial-intelektual yang&#13;
melatarbelakanginya, sekaligus menunjukkan relevansinya terhadap&#13;
kepemimpinan kontemporer. Kerangka teori yang digunakan adalah hermeneutika&#13;
filosofis Hans-Georg Gadamer, meliputi prasangka (Vorurteil), pengaruh sejarah&#13;
(Wirkungsgeschichte), peleburan horizon (Horizontverschmelzung) dan aplikasi/&#13;
relevansi. Adapun metode yang diterapkan adalah penelitian kepustakaan kualitatif&#13;
bersifat deskriptif-analitis dan komparatif. Penggalian data dilakukan melalui studi&#13;
dokumentasi terhadap penafsiran empat ayat kepemimpinan: Q.S. An-Nisā' [4]: 58-&#13;
59, Q.S. Ṣād [38]: 26, dan Q.S. Asy-Syūrā [42]: 38. Temuan menunjukkan bahwa&#13;
kedua mufasir membangun konstruksi ideal moral kepemimpinan di atas fondasi&#13;
yang sama amanah, keadilan, integritas, dan musyawarah namun dengan penekanan&#13;
yang berbeda: Sayyid Qutb menempatkan moralitas sebagai tolok ukur legitimasi&#13;
dan pelaksanaan kekuasaan, sedangkan M. Quraish Shihab menempatkannya&#13;
sebagai landasan etis dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.&#13;
Perbedaan tersebut lahir dari perbedaan horizon pemahaman dan konteks sosialhistoris&#13;
masing-masing mufasir. Nilai-nilai kepemimpinan yang ditemukan terbukti&#13;
relevan dalam menjawab persoalan kepemimpinan kontemporer.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-06-05</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>