<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>FASAD FI AL-ARD SEBAGAI KEJAHATAN LINGKUNGAN: ANALISIS PENAFSIRAN WAHBAH AZ-ZUHAYLI DALAM TAFSIR AL-MUNIR</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 24205031133</mods:namePart><mods:namePart type="family">Rendi Irawan</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Krisis lingkungan global yang kian masif, tecermin dalam praktik Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Provinsi Jambi yang mereduksi nilai alam hanya sebagai objek eksploitasi ekonomi. Krisis tersebut memicu pertentangan paradigmatik antara antroposentrisme yang cenderung eksploitatif dan biosentrisme yang sulit menjawab realitas sosial-ekonomi masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis secara mendalam konsep fasād fī al-arḍ (kerusakan di muka bumi) menurut Wahbah az-Zuḥaylī dalam Tafsir al-Munīr, serta mengkaji implikasinya terhadap paradigma etika lingkungan kontemporer. Metode penelitian yang diterapkan adalah kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer. Analisis dilakukan melalui lima tahapan utama identifikasi prasangka, rekonstruksi teks, kesadaran sejarah efektif, peleburan horison, dan aplikasi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa az-Zuḥaylī menafsirkan fasād fī al-arḍ sebagai kejahatan lingkungan yang bersifat teologis-yuridis, di mana bencana ekologis dipandang sebagai konsekuensi langsung dari pengkhianatan manusia terhadap amanah kekhalifahan. Perlindungan lingkungan dikristalisasi sebagai bagian integral dari Maqāṣid al-Syarī’ah (ḥifẓ al-bī’ah) yang menjadi perisai bagi perlindungan jiwa, akal, dan harta kolektif umat manusia. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa penafsiran az-Zuḥaylī menawarkan jalan tengah yang harmonis dengan mengintegrasikan prinsip mīzān (keseimbangan) dan iṣlāḥ (perbaikan). Pemikiran ini mentransformasi terma fasād dari sekadar konsep teologis-normatif menjadi instrumen analisis yuridis-ekologis yang tajam guna memperkuat legitimasi hukum lingkungan dalam mewujudkan keadilan ekologis yang berkelanjutan.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-05-25</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>