<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>MENJADI MUSLIM DARI TIMUR: INSTITUSIONALISASI IDENTITAS DAN RELATIF DEPRIVATIF DALAM KOMUNITAS ETNORELIGIUS PEMUDA MUSLIM NTT DI YOGYAKARTA</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 23200012069</mods:namePart><mods:namePart type="family">Muhammad Amin Saputra</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini menngunakan teori relatif deprivatif yang dikonseptualisasikan oleh Walter G Runciman mengenai pentingnya kelompok pembanding (comparison group), dan memperluasnya dengan menunjukkan bagaimana ia tidak selalu bekerja dalam relasi antarkelompok yang terpisah secara tegas, melainkan sering kali muncul dalam relasi sosial yang sangat dekat secara etnogenetik, kultural dan historis.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan adanya transformasi dari solidaritas kedaerahan yang berbasis geografis menuju konsolidasi etnoreligius yang lebih spesifik. Identitas Muslim Solor Watan Lema dan Galiyao Watan Lema yang semula berakar pada ikatan genealogis, memori kolektif, serta sejarah jaringan Islam pesisir di kawasan Solor dan Alor direartikulasi ulang dalam konteks urban Yogyakarta menjadi komunitas etnoreligius yang lebih spesifik, seperti melalui AMALY sebagai (Muslim Lamaholot di Jogja) dan IKPMBJ sebagai (Muslim Alor Baranusa di Jogja). Transformasi ini menandai perubahan dari logika asal-usul menuju penguatan identitas religius sebagai basis kohesi, disiplin moral, dan pengelolaan citra kolektif di ruang publik. Dalam proses tersebut, identitas etnoreligius bekerja dalam dialektika antara logika primordial dan instrumental yang saling bertumpang tindih. Logika primordial menyediakan fondasi emosional tentang kesatuan, loyalitas, dan kehormatan kolektif. Sementara itu, logika instrumental tampak dalam mobilisasi identitas oleh elite etnis (ethnic broker) untuk mengonsolidasikan massa, mengakses sumber daya, dan memperkuat posisi tawar di ruang publik kota di Yogyakarta. Konflik yang muncul tidak semata merupakan ekspresi sentimen asal-usul, tetapi sering kali merupakan hasil politisasi identitas yang memanfaatkan solidaritas genealogis sebagai energi mobilisasi. Akibatnya, pengalaman deprivasi relative tidak selalu bekerja dalam relasi antarkelompok yang terpisah secara tegas, melainkan sering kali muncul dalam relasi sosial yang sangat dekat secara etnogenetik, kultural, dan historis, serta ketika sebagian merasa menanggung konsekuensi reputasional dari mobilisasi kolektif yang tidak selalu mereka pilih.&#13;
Kata Kunci: Relatif Deprivatif, Solor Watan Lema, Galiyao Watan Lema, Identitas Muslim NTT.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">Masyarakat Islam</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-04-06</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;PASCASARJANA</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>