    {
      "department": "Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fak. Adab dan Ilmu Budaya",
      "subjects": [
        297.6
      ],
      "eprintid": 77281,
      "date": 2026,
      "userid": 12253,
      "documents": [
          {
            "language": "id",
            "placement": 2,
            "eprintid": 77281,
            "files": [
                {
                  "hash_type": "MD5",
                  "mtime": "2026-06-29 04:12:18",
                  "datasetid": "document",
                  "fileid": 1844026,
                  "objectid": 1064550,
                  "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/file\/1844026",
                  "mime_type": "application\/pdf",
                  "hash": "07bee954408c0c76cd5c96acebd06ee4",
                  "filesize": 21519,
                  "filename": "surat-surat-pernyataan1782706289.pdf"
                }
            ],
            "rev_number": 3,
            "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/document\/1064550",
            "main": "surat-surat-pernyataan1782706289.pdf",
            "mime_type": "application\/pdf",
            "docid": 1064550,
            "format": "text",
            "security": "public",
            "pos": 2
          },
          {
            "language": "id",
            "placement": 13,
            "eprintid": 77281,
            "files": [
                {
                  "hash_type": "MD5",
                  "mtime": "2026-07-07 03:11:27",
                  "datasetid": "document",
                  "fileid": 1847971,
                  "objectid": 1066423,
                  "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/file\/1847971",
                  "mime_type": "application\/pdf",
                  "hash": "cedbb5152efc65a292a2fd73915c7119",
                  "filesize": 299832,
                  "filename": "PERKEMBANGAN KESULTANAN ACEH DARUS SALAM.pdf"
                }
            ],
            "rev_number": 3,
            "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/document\/1066423",
            "main": "PERKEMBANGAN KESULTANAN ACEH DARUS SALAM.pdf",
            "mime_type": "application\/pdf",
            "docid": 1066423,
            "format": "text",
            "security": "public",
            "pos": 13,
            "formatdesc": "PERKEMBANGAN KESULTANAN ACEH DARUS SALAM PADA ABAD XVI- XVII M"
          }
      ],
      "rev_number": 20,
      "creators": [
        {
          "name": {
            "lineage": null,
            "given": "-",
            "honourific": null,
            "family": "Zuhrotul Latifah"
          }
        }
      ],
      "dir": "disk0\/00\/07\/72\/81",
      "keywords": "Kesultanan Aceh, Sejarah ACeh Darussalam",
      "monograph_type": "project_report",
      "lastmod": "2026-07-07 03:20:43",
      "ispublished": "unpub",
      "publisher": "Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fak. Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga",
      "metadata_visibility": "show",
      "eprint_status": "archive",
      "status_changed": "2026-07-07 03:20:43",
      "datestamp": "2026-06-29 04:17:55",
      "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/eprint\/77281",
      "full_text_status": "public",
      "divisions": [
        "penelitian"
      ],
      "abstract": "Kesultanan Aceh Darussalam berdiri di pesisir utara Pulau Sumatra pada tahun 1496 \r\ndengan  Sultan Ali Mughayat Syah  sebagai sultan  pertama. Ia dinobatkan pada Ahad, 1 \r\nJumadil awal 913 H atau pada tanggal 8 September 1507 M. Kesultanan ini mencapai puncak \r\nkejayaannya di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Kesultanan ini \r\ndikenal sebagai kerajaan maritim yang kuat dengan pengaruhnya yang luas di kawasan Asia \r\nTenggara. Pada masa pemerintahannya kerajaan Aceh berkembang selama empat abad, sampai \r\nBelanda mengalahkannya dalam perang Aceh (1873-1912). Kesultanan Aceh Darussalam berkembang pesat karena kombinasi berbagai faktor, \r\nseperti letak strategis, kepemimpinan yang kuat, sistem pemerintahan yang teratur, kekuatan \r\nmiliter yang kuat, dan menjadi pusat pendidikan Islam. Faktor-faktor ini memungkinkan Aceh \r\nuntuk menjadi kerajaan maritim yang kuat dan berpengaruh di kawasan Asia Tenggara. \r\nKesultanan Aceh Darussalam pada masa kejayaannya memiliki kondisi sosial, politik, \r\ndan ekonomi yang stabil dan maju. Masyarakatnya hidup dengan toleransi dan saling \r\nmenghormati dengan dibuatnya stratifikasi golongan masyarakat, pemerintahannya teratur dan \r\nstabil, dan ekonominya berkembang pesat. Aceh menjadi pusat perdagangan internasional \r\nsebab posisinya yang strategis dalam jalur pelayaran laut. Keberhasilan ini menjadikan Aceh \r\nsebagai salah satu kerajaan maritim yang paling berpengaruh di Asia Tenggara pada masanya. \r\nKemunduran Kesultanan Aceh Darussalam merupakan tragedi sejarah yang kompleks. \r\nFaktor internal seperti perebutan kekuasaan dan lemahnya kepemimpinan, dikombinasikan \r\ndengan faktor eksternal seperti perang dengan Belanda dan perubahan geopolitik, menjadi \r\npenyebab runtuhnya kerajaan yang pernah berjaya ini. Walaupun begitu, hingga saat ini, \r\nKesultanan Aceh Darussalam masih dikenang sebagai salah satu kerajaan terbesar dan terkuat \r\ndi Asia Tenggara. Kisah kemunculannya menjadi inspirasi bagi banyak orang tentang \r\nbagaimana kekuatan dan kejayaan dapat diraih melalui kepemimpinan yang kuat, persatuan, \r\ndan kerja keras.",
      "type": "monograph",
      "title": "PERKEMBANGAN KESULTANAN ACEH DARUS SALAM PADA ABAD XVI- XVII M",
      "institution": "UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA",
      "place_of_pub": "Yogyakarta"
    }