<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>TRANSFORMASI TAFSIR AL-MARIFAH DI ERA DIGITAL:&#13;
ANALISIS KELISANAN SEKUNDER PADA PAPARAN MUSTAFA UMAR DI KANAL YOUTUBE TAFAQQUH ONLINE</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 24205031066</mods:namePart><mods:namePart type="family">Leni Mardiah</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>ini menggunakan teori kelisanan sekunder Walter J. Ong sebagai&#13;
pisau analisis untuk melihat karakteristik oralitas dalam praktik tafsir digital.&#13;
Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan library&#13;
research yang dipadukan dengan analisis konten. Data primer penelitian berupa&#13;
video-video kajian tafsir Musthafa Umar di kanal YouTube Tafaqquh Online,&#13;
sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, jurnal, artikel, dan penelitian&#13;
terdahulu yang berkaitan dengan tafsir digital, media, dan teori oralitas.&#13;
Berdasarkan kajian pustaka, penelitian sebelumnya lebih banyak membahas&#13;
metodologi tafsir Musthafa Umar, epistemologi tafsir digital, legitimasi otoritas&#13;
keagamaan di media sosial, serta kontestasi penafsiran di ruang digital. Sementara&#13;
itu, penelitian mengenai oralitas dalam tafsir digital umumnya berfokus pada tokoh&#13;
lain seperti Gus Mus, Gus Baha, dan Quraish Shihab. Oleh karena itu, penelitian ini&#13;
memiliki pembaruan dalam kajian tafsir digital karena tidak hanya melihat isi&#13;
penafsiran Musthafa Umar, tetapi juga menempatkan media digital sebagai unsur&#13;
yang turut membentuk pola interpretasi, gaya penyampaian tafsir, hubungan antara&#13;
penafsir dan audiens, serta konstruksi otoritas keagamaan di era digital.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Musthafa Umar di platform&#13;
YouTube memiliki karakteristik kelisanan sekunder, yakni tafsir disampaikan&#13;
secara lisan melalui media audiovisual tetapi tetap bertumpu pada tradisi literasi&#13;
seperti penggunaan kitab tafsir, hadis, dan penjelasan kebahasaan. Penyampaian&#13;
tafsir dilakukan dengan bahasa yang komunikatif, repetitif, sederhana, dan dekat&#13;
dengan realitas sosial masyarakat sehingga mudah dipahami oleh audiens digital.&#13;
Penelitian ini juga menemukan bahwa oralitas digital mempengaruhi model&#13;
interpretasi tafsir menjadi lebih ringkas, populer, praktis, dan komunikatif&#13;
dibandingkan tafsir tulisan yang cenderung panjang dan sistematis. Selain itu,&#13;
media YouTube mengubah hubungan antara penafsir dan audiens menjadi lebih&#13;
partisipatif melalui komentar, like, share, dan berbagai bentuk engagement digital&#13;
lainnya. Oralitas digital juga memperlihatkan adanya pergeseran otoritas tafsir, di&#13;
mana legitimasi mufassir tidak hanya bertumpu pada sanad keilmuan dan lembaga&#13;
pendidikan tradisional, tetapi juga dipengaruhi oleh popularitas digital serta&#13;
penerimaan audiens media sosial.&#13;
Kata Kunci: Tafsir Digital, Oralitas Sekunder, Musthafa Uma</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">Ilmu Alqur’an dan Tafsir </mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-06-03</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>