TY - THES N1 - Dr. Muhammad Taufik, M.A. ID - digilib77486 UR - https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77486/ A1 - Muhammad Habib Izzuddin Amin, NIM.: 24205031015 Y1 - 2026/05/25/ N2 - Penelitian ini berangkat dari realitas krisis multidimensional di Indonesia, mulai dari kerusakan alam yang masif, tingginya angka kriminalitas, hingga praktik penyalahgunaan kekuasaan yang secara teologis dibaca sebagai manifestasi fas?d di muka bumi. Fenomena destruktif ini mengindikasikan adanya ketegangan antara mandat spiritual manusia sebagai khal?fah dengan realitas perbuatannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara dialektis relasi antara mandat khal?fah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 30 dan realitas fas?d dalam QS. Ar-Rum [30]: 41 melalui pembacaan kontekstual. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan basis studi pustaka (library research). Data utama penelitian ini adalah QS. Al-Baqarah [2]: 30 yang menjelaskan tentang penetapan status khal?fah pada manusia (Adam), dan QS. Ar-Rum [30]: 41 yang menjelaskan bahwa seluruh kerusakan yang ada di darat dan laut adalah ulah manusia. Dalam proses analisis, penelitian ini menggunakan teori tafsir kontekstual Abdullah Saeed guna memahami esensi penafsiran serta memetakan mandat kekhalifahan dan realitas kerusakan dari kedua ayat tersebut. Selanjutnya, ketegangan antara mandat khal?fah dan realitas fas?d tersebut dianalisis lebih lanjut menggunakan kerangka dialektika Hegel guna mendamaikan dan mengangakatnya kedalam versi yang lebih tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interpretasi tafsir kontekstual Abdullah Saeed mentransformasikan mandat khal?fah menjadi agensi moral responsif yang memikul mandat fungsional dan tanggung jawab baik dalam ranah ekologi, sosial, maupun kepemimpinan. Berbalik dari mandat tersebut, berbagai kerusakan mulai dari kerusakan alam, kerusakan moral manusia, dan penyalahgunaan kepemimpinan merupakan cerminan fas?d hari ini yang mencederai esensi khal?fah itu sendiri. Dalam kerangka dialektika Hegel, relasi antara manusia dan lingkungannya terbaca sebagai gerak triadik di mana idealisme khal?fah yang abstrak sebagai tesis, yang kemudian dinegasikan oleh realitas fas?d kontemporer sebagai antitesis. Kontradiksi internal ini tidak berakhir pada kehancuran, melainkan melalui proses aufheben menghasilkan sintesis berupa figur ?khal?fah yang tangguh?. Figur ini tetap memegang esensi amanah namun menjadikan kesadaran akan potensi kerusakan sebagai titik tolak untuk melakukan ishl?? (perbaikan) secara matang, kritis, dan reflektif. Implementasi dari sintesis ini mewujud dalam paradigma transformatif yang menempatkan m?z?n (keseimbangan) sebagai parameter utama dalam setiap tindakan manusia. Pada ranah ekologi, hal ini menuntut kesadaran ekologis yang memandang bumi sebagai amanah lintas generasi yang wajib dijaga. Di ranah sosial, sintesis bermanifestasi melalui budaya ihsan, moderasi, dan pluralisme dengan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan bersama serta aktif memitigasi konflik. Sementara pada dimensi kepemimpinan, menuntut tindakan yang adil serta reflektif, di mana energi destruktif dari fas?d diserap menjadi dorongan untuk membangun sistem pengawasan yang transparan, profesional, dan tangguh. Melalui sinergi tafsir kontekstual dan dialektika ini, relasi antara manusia, alam, dan kekuasaan dapat terus diarahkan menuju tatanan peradaban yang lebih adil, lestari, dan berkeadaban sesuai dengan dinamika ruang dan waktu. PB - UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA KW - Khal?fah; Fasad; Tafsir Kontekstual; Abdullah Saeed; kerusakan sosial M1 - masters TI - MANDAT KHALIFAH DAN REALITAS FASAD DALAM INTERPRETASI TAFSIR KONTEKSTUAL ABDULLAH SAEED (Analisis Dialektika Hegel) AV - restricted EP - 390 ER -