%A NIM.: 22105010048 Aliefia Zalifah Mumtaza %O Ali Usman, M.Si. %T CINTA PERSPEKTIF AL-GHAZALI DAN ERICH FROMM (STUDI KOMPARATIF) %X Cinta merupakan tema sentral dalam berbagai tradisi pemikiran, baik dalam kajian keagamaan maupun psikologi modern, karena berkaitan langsung dengan pembentukan kepribadian, makna hidup, dan kualitas relasi manusia. Namun, pembahasan tentang cinta kerap berkembang secara terpisah mengikuti batas pendekatan keilmuan, sehingga pemaknaannya sering menekankan salah satu dimensi tertentu dan belum sepenuhnya menampilkan cinta sebagai fenomena yang utuh. Perbedaan latar intelektual dan pendekatan keilmuan tersebut melahirkan beragam konseptualisasi cinta, sebagaimana tampak dalam pemikiran al-Ghazali dan Erich Fromm, yang menarik untuk dibaca secara komparatif. Al-Ghazali memandang cinta dalam kerangka tasawuf sebagai jalan ruhani menuju Tuhan, sedangkan Fromm memahami cinta sebagai kemampuan psikologis yang harus dipelajari untuk mengatasi keterasingan eksistensial manusia. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini merumuskan masalah mengenai bagaimana konsep cinta menurut al-Ghazali dan Erich Fromm serta apa persamaan dan perbedaan pandangan keduanya mengenai cinta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep cinta menurut masing-masing tokoh dan mengungkap persamaan serta perbedaannya secara komparatif. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Analisis dilakukan melalui pembacaan tematik dan komparatif terhadap karya-karya utama al-Ghazali dan Erich Fromm serta literatur pendukung yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Ghazali menempatkan cinta sebagai proses spiritual yang berorientasi teosentris, berakar pada pengetahuan dan penyucian jiwa, dengan tujuan akhir kedekatan dan keselarasan batin dengan Tuhan. Cinta dalam pandangannya tidak berhenti pada pengalaman emosional atau psikologis, melainkan menjadi jalan ruhani yang menuntun manusia pada transformasi batin yang mendalam. Sebaliknya, Fromm memandang cinta sebagai kemampuan psikologis yang bersifat aktif dan humanistik, dibentuk melalui latihan batin, tanggung jawab, perhatian, rasa hormat, dan kesadaran diri untuk mencapai keutuhan eksistensial serta membangun relasi yang autentik dengan sesama. Meskipun berbeda orientasi, keduanya sepakat bahwa cinta bukan sekadar emosi sesaat, melainkan kekuatan transformatif yang menuntut keterlibatan aktif subjek dan berperan penting dalam pembentukan struktur batin, orientasi nilai, serta kualitas kehidupan manusia secara menyeluruh. Kata kunci: Cinta, Al-Ghazali, Erich Fromm, Tasawuf, Psikologi. %K Cinta, Al-Ghazali, Erich Fromm, Tasawuf, Psikologi %D 2026 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %L digilib77537